<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295</id><updated>2012-01-25T02:58:02.181+07:00</updated><title type='text'>Defending Buddhism</title><subtitle type='html'>This blog is created to defend Buddhism against insults, misrepresentation, slander, and false accusation by irresponsible people in internet.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-781246919894904794</id><published>2008-12-31T13:51:00.001+07:00</published><updated>2008-12-31T13:58:54.145+07:00</updated><title type='text'>Syarat menjadi Buddhis</title><content type='html'>Sepertinya banyak kerancuan mengenai apa yg disebut ajaran Buddha dan yang mana murid Buddha yg sejati. Saya coba jelaskan sedikit dari apa yg pernah saya pelajari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Buddha pasti :&lt;br /&gt;Tidak ada Tuhan Pencipta&lt;br /&gt;Ada 4 Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia beruas 8&lt;br /&gt;Tiga Corak universal (Anicca, Dukkha, Anatta)&lt;br /&gt;Ada Paticcasamupada (Hukum sebab akibat yg saling bergantungan - dengan 12 mata rantai)&lt;br /&gt;Mempercayai Hukum Karma dan Tumimbal Lahir&lt;br /&gt;Mempercayai 31 alam&lt;br /&gt;Praktek Sila Samadhi Panna&lt;br /&gt;Bertujuan mencapai Nibbana/Nirvana&lt;br /&gt;Mengakui Buddha Gautama/Sakyamuni sebagai penemu Buddha Dhamma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Buddhis = pengikut Buddha/ Murid Buddha/ Orang yg mengadopsi Ajaran Buddha sebagai pedoman hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berargumen bahwa karena mereka berbuat baik dan tidak berbuat jahat, sesuai dengan inti ajaran Buddha Sakyamuni, maka mereka adalah Buddhis, umat Buddha.&lt;br /&gt;Mengenai pendapat bahwa karena aliran ini baik dan bermanfaat bagi masyarakat, jadi boleh saja mengaku agama Buddha, hal ini saya rasa salah besar. Memang ajaran Buddha boleh dipelajari siapa saja, tanpa ada rahasia, dan kita tidak boleh memonopolinya. Tapi mempelajari ajaran Buddha dan menjadi pengikut Buddha ada perbedaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang baik sekali, mengikuti ajaran yang sangat baik, menganjurkan umatnya berbuat baik, suka menolong orang, dll. Lebih baik daripada umat Buddha. Ibaratnya dia praktek Dhamma lebih tinggi dari umat Buddha. Tapi memang dia tidak pernah kenal siapa Siddharta Gautama. Yang dia kenal adalah Mr. Y dari Agama K, dan dia tiap minggu ke Ger*j*. Apakah dia Buddhist? Murid Buddha? Tentunya dia akan marah anda katakan dia murid Buddha. Dia kan murid Mr. Y!&lt;br /&gt;"Dia adalah umat agama lain yang hidupnya sesuai dhamma yg diajarkan Buddha. Tapi dia bukan Buddhist"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi orang yg baik juga, dan dia kenal Siddharta Gautama. Banyak inspirasi yang diperolehnya ketika mempelajari riwayat Siddharta maupun ajarannya. Dia mengambil beberapa filosofi hidupnya dari ajaran Buddha. Tapi beberapa aspek dia tidak percaya dan tidak diambil. Dia adalah pengagum Buddha. Tapi dia Shalat 5 waktu dan pergi naik haji. Apakah dia murid Buddha? Bukan, dia akan menolak sebutan tersebut. Dia kan cuma penggemar, katanya. Buddha itu dianggapnya figur tokoh sejarah sama seperti Gandhi, Washington, Soekarno, dll yang bisa diambil teladannya.&lt;br /&gt;"Dia adalah pengagum Buddha, tapi bukan murid Buddha"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada aliran yang beralasan bahwa konsep reinkarnasi dan karma ada dalam aliran mereka, sama seperti di agama Buddha. Terlebih lagi mereka belakangan ini menambahkan Buddha Sakyamuni dan Guan Yin di altar mereka. Di altar Vihara juga ada rupang Buddha Sakyamuni dan Guan Yin (avalokitesvara). Jadi mereka adalah Buddhis aliran Mahayana, iya dong? Coba kita bandingkan dengan contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam beberapa aliran Hindu, Buddha disembah sebagai titisan dewa Vishnu yang turun ke dunia. Mereka memuja rupang Buddha Gautama. Mereka mempercayai reinkarnasi dan Karma. Mereka baik-baik orangnya. Belakangan ini mereka juga mengambil beberapa aspek - aspek ajaran Buddha yang mereka suka. Beberapa konsep utama Hindu berkembang menjadi sangat mirip dengan konsep utama ajaran Buddha, walau masih ada perbedaan mendasar. Apakah orang-orang ini Buddhis? Bukan, mereka adalah "Penganut Hindu yang mendewakan Buddha"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi walaupun aliran Maitreya punya dewa yg sama, ajaran yg sedikit mirip, belum tentu Buddhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa kriteria seseorang disebut Buddhis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia berlindung kepada Tiga Permata (Triratna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berlindung kepada Buddha.&lt;br /&gt;Ia berlindung kepada Dhamma&lt;br /&gt;Ia berlindung kepada Sangha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlindung kepada Buddha, berarti mengangkat Buddha sebagai guru yang tertinggi, dan menyerahkan hidup kita kepada Buddha.&lt;br /&gt;Kita mempercayai Buddha sebagai dokter, kita adalah orang sakit, Buddha dapat mendiagnosa penyakit kita dan memberi cara-cara penyembuhan.&lt;br /&gt;Kita menganggap Buddha sebagai penunjuk jalan, orang yang pernah pergi dan kembali dari tempat tujuan.&lt;br /&gt;Kita melihat Buddha sebagai teladan bahwa kita pun bisa menjadi seperti Dia, mencapai nibbana. Secara implisit, "Aku berlindung pada Buddha" artinya "Aku pergi menuju keBuddhaan" Disini dapat diartikan seseorang berlindung pada bakal Buddha dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhamma adalah perlindungan yang sesungguhnya. Dhamma adalah ajaran Buddha, yg jika dipraktekkan akan membawa menuju pembebasan, nibbana, kebahagiaan.&lt;br /&gt;Kita menganggap Dhamma sebagai obat yg diberikan dokter, sebagai peta penunjuk jalan, dan sebagai rakit untuk menyebrang.&lt;br /&gt;Dhamma disini juga dapat diartikan sebagai hasil pencapaian praktek spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangha adalah pembimbing. Komunitas bagi kita dalam perjalanan spiritual. Teman yg lebih berpengalaman dalam perjalanan. Suster yg membantu dokter dalam merawat. Penjaga Dhamma.&lt;br /&gt;Sangha secara umum berarti komunitas para makhluk yang mempraktekkan Dhamma. Mereka terdiri dari makhluk biasa, Biksu/Biksuni/ Para Arya/ dan Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak zaman Buddha Gautama masih hidup sampai sekarang, seseorang resmi menjadi Buddhis setelah mengucapkan 3 kalimat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berlindung pada Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berlindung pada Dhamma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berlindung pada Sangha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kata-kata yg artinya sama, yg berbeda sesuai tradisi. Tetapi intinya sama, mengambil perlindungan pada Triratna. Apakah hal ini dilakukan melalui upacara resmi [visudhi], atau dilakukan di depan altar di tempat sepi, sama saja. Yang penting adalah pikiran orang tersebut yg menyadari bahwa dia mengambil perlindungan dengan pandangan terhadap Triratna yg tepat seperti sudah dijelaskan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, seorang Buddhis wajib mengambil minimal 1, dari 5 sila. Biasanya Buddhis mengambil semuanya. Pancasila Buddhis adalah:&lt;br /&gt;1. latihan tidak membunuh&lt;br /&gt;2. latihan tidak mencuri&lt;br /&gt;3. latihan tidak melakukan perbuatan asusila&lt;br /&gt;4. latihan tidak berbohong&lt;br /&gt;5. latihan tidak mengkonsumsi benda yang membuat ketagihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah syarat menjadi seorang Buddhis, yang sama di semua aliran Theravada, Mahayana, dan Tantrayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syarat menjadi aliran Mahayana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yg membedakan aliran Theravada dan Mahayana? (Tantrayana termasuk subbagian dari Mahayana)&lt;br /&gt;Mahayana mengenal Bodhicitta. http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=7456.0&lt;br /&gt;Bodhicitta adalah batin pencerahan&lt;br /&gt;Merujuk pada keadaan mental seseorang yang mempunyai rasa cinta kasih terhadap semua makhluk dan kasihan pada penderitaan mereka dan membuat komitmen untuk membebaskan semua makhluk dari derita.&lt;br /&gt;Karena cara paling efektif untuk itu adalah menjadi Samma SamBuddha, maka orang ini bertekad mencapai ke-Buddhaan. Ia akan menempuh jalan Bodhisattva, membuat sumpah-sumpah, melakukan banyak kebajikan, melatih diri menyempurnakan paramita. Bodhisattva bertekad akan tetap tinggal dalam samsara sampai semua makhluk selamat.&lt;br /&gt;Inilah yang ada dalam mahayana dan tidak ada dalam theravada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aliran Maitreya berlindung kepada Triratna? Apakah ada Pancasila Buddhis? Apakah didalamnya ada ajaran Bodhicitta?&lt;br /&gt;Apakah anda sudah menjadi seorang Buddhis sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kelakuannya buruk tetapi sudah Buddhis, namanya Buddhis yg tidak praktek dharma.&lt;br /&gt;Kalau kelakuannya sesuai dharma dan sudah menjadi Buddhis, namanya Buddhis yg praktek Dharma&lt;br /&gt;Kalau ngakunya beragama Buddha, KTPnya Buddha, tapi sama sekali ga tau apa itu ajaran Buddha, namanya Umat Buddha KTP&lt;br /&gt;Kalau kerjaannya sembhayang kelenteng, imlek, cengbeng, namanya umat Buddha Tradisi&lt;br /&gt;Kalau KTPnya Konghucu, baru pindah agama dari agama Buddha, setelah bertahun-tahun "numpang"&lt;br /&gt;Kalau kerjanya praktek Tao, berarti umat Tao yg lagi numpang di Agama Buddha sementara menunggu Tao diakui sebagai agama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau KTP Buddha, ngaku Buddhis, tapi tidak termasuk yang di atas.... ENTAH APA ITU?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-781246919894904794?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/781246919894904794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=781246919894904794' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/781246919894904794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/781246919894904794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/syarat-menjadi-buddhis.html' title='Syarat menjadi Buddhis'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-1629212429801037281</id><published>2008-12-09T17:08:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T17:09:38.716+07:00</updated><title type='text'>Muhammad is NOT Maitreya</title><content type='html'>Dr Zakir Naik, a prominent figure of Moslems, try to claim that Muhammad has already foretold by other religions. In the case of Buddhism, he said that Muhammad is actually the future Buddha Maitreya, which has been predicted by Gautama Buddha. The claim made that Muhammad is Maitreya, The future Buddha foretold by Buddha Siddharta Gautama, was based on similarities between the prophecy of Maitreya and the life of Muhammad. However this claim is illogical and hasty. It did not consider the aspects of Buddha's prophecy that accurately stated when and at what condition will the future Buddha Maitreya come. Also, there are huge differences between Buddhism and Islam in basic doctrines, while the Buddha said that the teachings will be the same.&lt;br /&gt;I do not wish to attack Islam, but to clarify from Buddhism standpoint of why the claim is false. I will focus on differences on the prophecy of Maireya and Muhammad's life story, based on credible Buddhist scriptures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are certain conditions of the world and the signs of Maitreya's birth. His birth, his life, his achievements, all has been prophesied. But Muhammad did not live to meet all that. The differences are:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Maitreya will come after Gautama Buddha's teaching is forgotten. &lt;br /&gt;It was not forgotten like become corrupted or distorted, like muslims will say. In Anagata Vamsa(chronicles of future buddhas), this means complete elimination of whatever traces of Buddhism, and the word "Buddha" completely lose meaning. I will happen 5000 years after Buddha's death. Now, it is only 2600 years after Buddha's death, and there are still many Buddhist scriptures, Buddhist monks, and the like&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Before Maitreya come, there will be a period of degeneration&lt;br /&gt;Cakkavati Sihanada Sutta has been repeatedly quoted by those who justify that Maitreya is Muhammad. But the scriptures says more about Maitreya. The Buddha explained that immorality will continue to increase and   the human life span will continue to decrease until it is only ten years. Girls will be married at five years of age. At that time, people who have  no respect for their parents, for religious leaders, or for community leaders will be honoured and praised. Promiscuity will be so common, human beings will be like animals. Animosity, ill will, and hatred will be so strong, people will want to kill the members of their own family. There will be a seven-day war with great slaughter. But some people will hide for the seven days, and afterwards they will rejoice to see those who have survived. They will determine to stop killing, and their life spans will increase to twenty years. Seeing this, they will undertake to keep other moral precepts, and gradually the human life span will increase again.&lt;br /&gt;There is no record of that kind of degeneration in this world, yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Maitreya will come in the period of welfare&lt;br /&gt;Again, from the now famous Cakkavati Sihanada Sutta, the Buddha goes on to describe &lt;br /&gt;  how morality among human beings grows stronger and stronger. As a result, their life span grows longer until it reaches eighty thousand years, and at that time, Buddha Metteyya will come. &lt;br /&gt;Added by prophecy from Anagata Vamsa: "There will be three diseases: desire, hunger, and old age. The women will marry at the age of five hundred."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Maitreya will have 32 birthmark.&lt;br /&gt;This birthmark, also shared by Siddharta, is common knowledge among Hindus and Buddhas, marking the person who possess it as a man of greatness. Thus, it was called "32 Mark of Great Person". It was elaborated in Lakkhana Sutta. Check for yourself whether or not Muhammad was told to have these 32 marks. As I know it, there is no story about it.&lt;br /&gt;http://www.onmarkproductions.com/Signs-of-Buddha-32-80.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.The birth of Maitreya&lt;br /&gt;Many details concerning the coming Buddha can be assembled by combining Buddha Gotama's prediction in the Digha-nikaya, the  Anagatavamsa, the two versions of The Ten Bodhisattas, and the Dasavatthuppakarana. Further details can be added from the description by Buddha Gotama of the past Buddha Vipassi,Ven. Ananda's praise of the Buddha, and the commentary on The Chronicle of Buddhas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The details confirm these prophecy:&lt;br /&gt;a) His mother gives birth in a standing position and in a forest&lt;br /&gt;b) He comes forth without any stain&lt;br /&gt;c) He takes seven steps to the north, surveys the four quarters, and pronounces the lion's roar that he is supreme in the world.&lt;br /&gt;d) Seven days after the birth of the Bodhisatta, his mother dies and is reborn in the Tusita Deva world.&lt;br /&gt;e) At this time, there will be a Wheel-turning Monarch named Sankha. The Bodhisatta will be the son of the Wheel-turning Monarch's head priest, Subrahma, and his wife, Brahmavati&lt;br /&gt;f) He will be named Ajita&lt;br /&gt;g) He will lead the household life for eight thousand years.&lt;br /&gt;h) He will have four palaces named:Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, and Candaka. &lt;br /&gt;i) His wife will be Candamukhi and his son will be named Brahmavaddhana.&lt;br /&gt;j) He will decide to give up household life after they have seen the four signs (an old man, a sick man, a dead man, and a contented man who has gone forth from lay life)&lt;br /&gt;k) He will become averse to sensual pleasures. Not looking for the unsurpassed, great happiness and bliss in seeking honour, he will go forth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you find these facts when reading the biography of Muhammad? Did Muhammad lead a holy and celibate life, free of sensual pleasure? Did Muhammad leave his family and household just like Siddharta Gautama?  If the answers are no, then the conclusion is “Muhammad is not the one foretold in Buddhist Scriptures”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The prophecy of Maitreya is one of the most misused in the history of the world. There are many people, for political or personal reason, try to assert that he is Maitreya. But the prophecy itself is quite detailed, vast, and clear on many things. With small amount of reading, you can find that what Dr Zakir Naik said about Muhammad = Maitreya is completely false.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-1629212429801037281?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/1629212429801037281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=1629212429801037281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1629212429801037281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1629212429801037281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/muhammad-is-not-maitreya.html' title='Muhammad is NOT Maitreya'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-6333457312003434146</id><published>2008-12-09T00:13:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T00:13:34.394+07:00</updated><title type='text'>A Buddhist's curse to Islamists' bigotry</title><content type='html'>The Editor&lt;br /&gt;Asian Tribune&lt;br /&gt;Sir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While I do not condone the insensitive cartoons of Islam’s Prophet Muhammad in a Danish paper and reproduced elsewhere in a paper in France and Canada, I wish the Muslims who are furious over these cartoons and rampaging blazing the Danish Embassies had the same sensitivity when the Talibanis blasted to smithereens the Bamiyan Buddhas, that stood for twenty-three centuries in the Bamiyan valley, which hurt me to my core as a Buddhist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let me remind the Muslims who seem to be so angry about these cartoons that my knife cut both ways, and just not one way. And if I am expected to cultivate religious tolerance and be respectful of others religions, then I expect others to do the same towards my beliefs as a Buddhist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I took my frustration and anger by writing a therapeutic The Taliban Trilogy and not going around burning places, and country flags which most nationals feel is their sacred country symbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here is the first poem of the Trilogy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bamiyan Buddhas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We are Buddhas of the Bamiyan,&lt;br /&gt;for twenty-three centuries&lt;br /&gt;we have stood tall in the sun,&lt;br /&gt;gigantic, gazing benevolently&lt;br /&gt;from our homes in the mountainous terrain&lt;br /&gt;as wars raged during the centuries&lt;br /&gt;across the Afghanistan plains,&lt;br /&gt;but then we were not harassed&lt;br /&gt;and were left alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And now the Islamic Taliban leader&lt;br /&gt;Mullah Mohammad Omar says&lt;br /&gt;we should be blown up and destroyed.&lt;br /&gt;And we are aware that Buddhists&lt;br /&gt;around the world are shocked and annoyed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But, why, why, why? we tend to ask&lt;br /&gt;"the statues violate the tenets of Islam&lt;br /&gt;as laid down in the Koran"&lt;br /&gt;the Talibanis say in a hurry.&lt;br /&gt;But then Islam entered the valley&lt;br /&gt;only in the ninth century,&lt;br /&gt;and we cannot agree&lt;br /&gt;and have difficulty to comprehend&lt;br /&gt;the intended vandalizing spree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praise! Our eyes were carved&lt;br /&gt;and we saw the busy stream&lt;br /&gt;of weary travelers&lt;br /&gt;and mostly merchants often tired,&lt;br /&gt;pitching their tents and wired&lt;br /&gt;at the end of a camel caravan&lt;br /&gt;when the nights set in on Bamiyan valley&lt;br /&gt;with a sky of an indigo parchment really&lt;br /&gt;for the stars to be pasted and twinkle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the morning&lt;br /&gt;we would see caravans parade&lt;br /&gt;criss-crossing to trade&lt;br /&gt;along the Silk Route,&lt;br /&gt;some with silks from China&lt;br /&gt;others with glassware from Alexandria,&lt;br /&gt;bronze statues from Rome&lt;br /&gt;and carved ivory from India.&lt;br /&gt;Accompanying the caravans,&lt;br /&gt;Buddhist monks came and went.&lt;br /&gt;Carved in the cliffs were monasteries&lt;br /&gt;where yellow-robed monks spent&lt;br /&gt;their time in meditation.&lt;br /&gt;The valley was devoid of lush trees.&lt;br /&gt;When Buddhism was thriving,&lt;br /&gt;there were festive rituals. The silk canopies&lt;br /&gt;were decorated with pennants striving&lt;br /&gt;to add colour to the occasion.&lt;br /&gt;Today, the Bamiyan valley&lt;br /&gt;is an austere place.&lt;br /&gt;The monks and pilgrims&lt;br /&gt;went away many centuries ago&lt;br /&gt;without leaving a trace&lt;br /&gt;after Islam took over the valley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rock carvers draped us&lt;br /&gt;in Hellenistic togas with deep folds&lt;br /&gt;and ridges that were straight&lt;br /&gt;inspired by the invading soldiers&lt;br /&gt;of Alexander the Great.&lt;br /&gt;Our faces were painted gold&lt;br /&gt;and our robes with bold&lt;br /&gt;colours of red and blue.&lt;br /&gt;The reason for the two colours&lt;br /&gt;we just don’t have a clue.&lt;br /&gt;But we looked impressive&lt;br /&gt;yet so despondent and vulnerable,&lt;br /&gt;but still we were able&lt;br /&gt;to survive the hostile onslaughts&lt;br /&gt;of factions that fought.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We were alright for twenty-three centuries&lt;br /&gt;having been sculpted, inspired&lt;br /&gt;by the invaders&lt;br /&gt;but now faced death and destruction&lt;br /&gt;by the Talibani marauders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In early March&lt;br /&gt;in the year two-thousand-and-one&lt;br /&gt;we were attacked and hit by&lt;br /&gt;an anti-aircraft weapon.&lt;br /&gt;We were inanimate to defy&lt;br /&gt;so lost part of our legs&lt;br /&gt;and then parts of our faces.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Later on March ninth&lt;br /&gt;our lower bodies and soles&lt;br /&gt;of our feet were drilled with holes.&lt;br /&gt;The Taliban soldiers stuffed&lt;br /&gt;them with sticks of dynamite,&lt;br /&gt;and about an hour after noon&lt;br /&gt;they blew us to dust&lt;br /&gt;and out of their sight.&lt;br /&gt;The blast was greeted soon&lt;br /&gt;with the Islamic rally’s best&lt;br /&gt;cry of "Allahu Akbar", "God is greatest"&lt;br /&gt;by the Talibanis who witnessed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By then the civilized world was in shock&lt;br /&gt;by this dastardly act, a knock&lt;br /&gt;on the belief that religions can co-exist.&lt;br /&gt;It was an act of Islamic religious bigotry&lt;br /&gt;and perhaps a&lt;br /&gt;Fundamentalist medieval brutality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among the Buddhists&lt;br /&gt;there is revulsion at the thought&lt;br /&gt;that the Talibanis think the act was fine,&lt;br /&gt;and they stand condemned in the eyes of mine&lt;br /&gt;and that of the civilized world."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Asoka Weerasinghe - Canada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asoka Weerasinghe, originally from Sri Lanka, is an award winning published poet, who has won the University of Wales Eisteddfod Poetry Award, Sri Lanka Literary Award for Poetry, the Newfoundland and Labrador Arts and Letters Gold Medal for Poetry, Gloucester Arts Board’s Arts Award 2000 for Poetry and The City of Ottawa Appreciation Award for Arts and Culture 2003. He is also the Co-founder of the Gloucester Spoken Art Poetry and Storytelling Series in Ottawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-6333457312003434146?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/6333457312003434146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=6333457312003434146' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/6333457312003434146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/6333457312003434146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/buddhists-curse-to-islamists-bigotry.html' title='A Buddhist&apos;s curse to Islamists&apos; bigotry'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-3935825462739854599</id><published>2008-12-08T23:37:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T23:39:01.128+07:00</updated><title type='text'>Buddhism for Christians</title><content type='html'>&lt;p&gt;copy paste from &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;http://www.geocities.com/tribhis/buddhismforxtians.html&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;An Explanation of some common Christian misunderstandings&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Christians, especially those of evangelical or fundamentalist persuasions, tend to approach Buddhism with preconceived notions. Such is to be expected from those Christians who tend to see their religion as the one true religion and all others as ‘false’. This attitude is known as spiritual supremacy, and though it may help many Christians grow stronger in their own faith, it leads to gross misunderstandings when they approach people of other faiths. Buddhism in particular is a good example of this. In the following writings I will explain the core Buddhist teachings and ideas for practice which I feel are mostly misunderstood by Christians. Those of you Christians with a commitment to truth would do well to read and attempt to gain a better grasp of Buddhism. Preconceived notions will not help any of you in the matter, and if you wish to passionately argue and defend your own faith when speaking with Buddhists, you may first wish to learn exactly what makes up the core insights of the religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christian Pre-Conceptions about Buddhism and Points of Misunderstanding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Offshoot of Hinduism?&lt;br /&gt;Many Christians, as well as many Hindus, make the erroneous statement that Buddhism is an offshoot of Hinduism. A cursory glance at the history of what is today called Hinduism would show the statement to be false. The dominant popular religion of the area where Siddhartha Gautama began his teachings was one of animal sacrifice, prayer, magical incantations, and ritual purity. This religion taught people that the soul was an eternal aspect of the creative force of the universe and that the world around it was simply an illusion. A special class of people known as the Brahmans were the priests and arbiters of this religion. They were responsible for the ritual purity, the sacrifices, and for all other aspects of the religion. Many of the foundations of Hinduism came from this religion (Vedism), but what we think of as Hinduism today was largely developed centuries after the spread of Buddhism. Siddhartha Gautama was from a background in which he learned well this religion. He maintained a very skeptical attitude towards it; pointing out that the Brahmans could use the religion and the special status afforded their caste to secure wealth and dominance over the populace at large. Siddhartha also remained critical of the ethical system of this religion by pointing out that people would be led to do all sorts of good deeds, not for altruistic or compassionate reasons, but in order to secure a better position in either the afterlife or the next life. Siddhartha basically considered that a selfish attitude which didn’t lead to any positive change in society and in individuals. (It should also be pointed out that many later people who worked within the Hindu stream also made these same points. As a result, the Hinduism of today is radically different from the earlier Vedism out of which it developed.) One of the catalysts for the development of what we think of as ‘Hinduism’ happened during the reign of the Gupta dynasty in India between the early fourth and the sixth centuries AD. This dynasty synthesized Indian culture with a unification of Buddhism and Vedism. For the next few centuries thereafter, Indian elites supported both the development and expansion of Buddhism and devotion to Hindu deities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Key points of difference between Buddhism and Hinduism are: 1)Buddhism does not speculate about the soul, 2)Buddhism refuses to allow for any caste system or discrimination based on similar ideas (such as modern ideas of race, class, nationality, or profession), 3)Buddhism, while allowing for the possible existence of entities and beings known as ‘deities’, does not allow that such beings have any permanent or fixed existence, 4)Buddhism has no goal of re-merging with the Godhead ‘Brahma’. Buddhism’s goal is ‘nirvana’, or ‘the end of suffering’ by extinguishing of dysfunctional desires, 5)re-incarnation in Hinduism and re-birth in Buddhism are two radically different ideas, 6)While suffering can be a spur to wake one up to reality, suffering is nowhere a sufficient lesson, nor does suffering lead one to become any better spiritually. The Hindu idea, and the largely New Age Western idea that suffering can be a virtue, is largely rejected in Buddhism which posits that ‘suffering is not enough’ and that suffering must be eased and overcome. (Buddhism does not view either suffering or pleasure as having any spiritual merit in and of itself.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the socio-cultural milieu around Buddhism’s formation in India was eventually to become what we know of as Hinduism, to say that Buddhism is an offshoot of Hinduism would be like saying that Christianity is simply an offshoot of Judaism. The statement seems to be logical and or true, but upon investigation, such a simple statement is exposed as being a vast pre-conception based on modern notions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also, the point should be raised about Buddhism’s eventual disappearance from India, it’s homeland, so to speak. How could one of the most popular religions in India for over a 1500 years simply disappear? The Christians tend to use the argument that Buddhism was not very separate from Hinduism to begin with. The Hindus usually say the same thing. But the reality was that the majority of Buddhist institutions and social groups in India were decimated by the Muslim invasions that took place after the 1100’s. Bereft of their monasteries and lay-universities, and bereft of subsequent political support, it was only a matter of time before Buddhism lost ground to both Hinduism and Islam. This situation is very comparable to what happened to Christianity in Israel/Palestine. So using the logic many Christians and Hindus use to explain Buddhism’s disappearance in India, this would mean that Christianity disappeared from Israel/Palestine largely because of its similarity to Judaism and/or Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a brief segue:&lt;br /&gt;Sadly, the historical processes of Muslim persecution and destruction of Buddhist institutions, communities, and people continues to the present day in places like Bangladesh, where the Buddhist minority is currently being victimized by Muslim pogroms. In the historical sweep of Buddhism, many Buddhist societies that were developing, prosperous, and peaceful have been decimated with some of them being completely destroyed, such as in what is now known as Afghanistan, for instance. This is not to say that other groups haven’t done their share, such as the Christians in many areas of Asia colonized by Europeans, the Russians in Mongolia, or the Chinese in Tibet. It is sad to see that many groups, both in history and at the present moment, believe in the violent delusion that socio-cultural destruction can lead to peace and progress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social Justice?&lt;br /&gt;Many Christians level the charge against Buddhism that it is ‘otherworldly’ and thus not concerned with this world and its societies at all. Christians like to claim that they alone started charitable organizations and hospitals, etc. and that Buddhist societies are largely apathetic and uncaring. These assumptions are false.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even in the largely Christian West, this claim shows an ignorance of pre-Christian societies and the ethical systems they revolved around. One example is the Irish Celtic social system before Christianity. Irish people had to provide hospitals for the sick and wounded. The healthcare had to be the best. And those who could not afford to pay for care had to be provided for with healthcare on an equal level as those who were wealthy enough to pay. Under the Irish Celtic system, charity was unnecessary due to the customs of obligatory hospitality and of communal/common wealth where any member of a community was provided for, and where outsiders had to be provided for on an equal basis. (It should also be pointed out that the Irish had the largest body of medical knowledge of any Western people before the 1800’s with the rise of modern medicine.) All of this existed before Christianity became known about in Ireland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Buddhist kingdoms and nations, the monastic system provided for many of the educational and social services, such as healthcare, until kings like Ashoka made universal access to healthcare a priority for his subjects. Buddhists built hospitals and were responsible for taking care of many of the population’s social service needs. No one seeking help could be turned away from Buddhist institutions. Highway systems were improved with rest/lodging stops provided free-of-charge for travelers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a corrective for the monastic focus on retreating from the world, the Mahayana Buddhist movement emphasized practice and compassion in the world and outside of the monasteries. And this spirit exists in all major Buddhist streams today. Examples of Buddhist social justice movements exist today in many places of the world, from the Buddhist efforts at ameliorating the effects of war and working for an end to war during the Vietnam-America conflict, to the Buddhist movement in Sri Lanka (the Sarvodaya Shramadana) which is working to get the people of the countryside to become economically self-sufficient and thus non-reliant upon the global market which threatens their survival. In India, the movement to get the ‘Untouchable’ class of people to be recognized as equal and deserving of all the rights of any people, is largely Buddhist, and the founder of this movement was an untouchable himself who later converted to Buddhism after studying every religion he could find. (Dr. B.R. Ambedkar, who also is credited with the writing of modern India’s constitution.) A movement known as Engaged Buddhism has grown up in the last 30 or so years and has been making many strides in getting societies to become more socially just and tolerant. A cursory investigation would reveal many facets of this, so the charge that Christians make against Buddhism is false and displays an ignorance of the historical sweep of Buddhism and of it’s activities in today’s world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Out of all religions, the one with the most critical attitude towards warfare and poverty seems to be Buddhism. Poverty and wealth is considered to be inextricably related, and Buddhism posits that both extremes are not conducive to leading a life of mindful compassion. As to warfare, in Buddhism there is no such thing as a ‘just’ or ‘holy’ war, not even to save Buddhist institutions, seeing as it does that war leads to mass murder and further suffering among people. The most famous Buddhist king, Ashoka, led a lifestyle of war and conquest until he faced head on the consequences of his conquests one day when surveying the aftermath of one of his battles. This led him to declare that war was wrong. He eventually converted to Buddhism and tried to institute a ‘dharmavijaya’ or ‘truth victory’ as opposed to a series of military conquests. It is impossible today to be Buddhist and yet support any war, no matter the justifications or reasons given. Likewise, poverty is seen as an expression of both the greed and denials of the rich and of the social inertia of the rest of the population. So Buddhists can not really justify or support economic systems that allow for wealth at the expense of other lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Death?&lt;br /&gt;A major point of contention is the argument that many fundamentalist Christians use in saying that the historical founder of Buddhism, Siddhartha Gautama is dead, while the founder and leader of Christianity is alive. This seems a fine argument for Christians to use against Buddhism, but it means little to nothing to Buddhists, seeing as Buddhism does not focus on the Resurrection idea so central to Christian faith. As beautiful and inspiring as the idea of the Resurrection and triumph over death is, Buddhism really says nothing about anything similar. In fact, one of the key teachings of Buddhism is that we will all die. The fact that Siddhartha Gautama himself died is used to drive this point home. So using the example of the Buddha’s death in comparison to Jesus Christ’s Resurrection doesn’t really do well to make any bridges of understanding for those Christians who would choose to try to convince Buddhists to look at Christian beliefs. Buddhism says that our fear and anguish over the fact of death, in fact, creates a lot of suffering because we don’t want to die. But instead of giving us some sort of metaphysical consolation to immediately fill in the gap and assuage our fears and anguish, Buddhism says that we should understand why we feel the way we do about death. We start with who we are now. Buddhism states clearly that, though we might have all sorts of notions about life and of life after death, we really just don’t know. This starting point is not provided so that Buddhists can then dodge the issue with some sort of pseudo-agnostic excuses for not investigating it. It is provided as a starting point to approach our lives with all of their both terrifying and wonderful aspects.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A major difference between Christianity and Buddhism is that in Christianity, death itself is seen as caused by the entrance of sin into the world. Whereas in Buddhism, death is seen as the natural consequence of having been born. Which leads to the next misunderstanding about Buddhism, the question of sin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sin?&lt;br /&gt;The concept of sin is not used in Buddhism. The closest thing to it is the idea that we cause our suffering through our ignorance and our unwillingness to see the world as it is, and our unwillingness to give up our fantasy notions of who we believe we are and the type of creatures we really are. Buddhism shares with Christianity an idea that something is going wrong with us and that a radical change in attitude and approach to our engagement with the world is needed. But there the similarity ends for Buddhism posits a lifestyle of awareness, whereas Christianity posits the doctrine of Salvation. This doctrine is meaningful in the context of beliefs about Eternal Damnation and Eternal Heaven being the ultimate fate of human beings. Buddhism, despite the speculation of many Buddhists in history, however posits no comparable Eternal scenarios. The point of Buddhism is to become liberated from suffering and to help others do the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Soul?&lt;br /&gt;Contrary to the Christian fundamentalist assertion that the goal of Buddhism is to ‘blow out the soul’ (to become annihilated and never reborn), the Buddhist idea of ‘blowing out’ (nirvana) refers to blowing out the cravings which lead to suffering. Buddhism points out that many of those cravings and compulsions which propel us have been confused as essential aspects of our ‘soul’ and that this is, of course, wrong to do. It is an easing of the fixations which trap us into dysfunctional habits which only leave us dissatisfied. Buddhists are persuaded to not hold onto any fixed notions about the self, or ‘soul’. We don’t say that the soul does not exist in any eternal fashion, nor do we say that it does exist in any eternal fashion. We simply say that we don’t have all the answers, nor will we. Also most of what we think and feel we are is simply illusory. (Note that I say illusory and not ‘illusion’ and the two meanings are not identical.) Language and thinking should not be allowed to bewitch us or trip us up. Whatever the ‘soul’ is, cannot be discovered by using prefabricated doctrines or ideas. In short, we are both Not What We Think we are, and we So Much More than we could imagine. Ideas and notions, while useful in social and linguistic contexts, do nothing to help us grasp who and what we really are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The soul/self is viewed as unique not because of some innate enduring metaphysical quality or substance, but because it is the flux of a vast array of contingencies and influences, never repeated or replicated again. Another point of Buddhism is that the self/soul doesn’t suddenly vanish once this radical investigation leaves us with the idea that we really can’t point to any essence and say ‘that is the soul’. The Buddha’s historical silence on this issue when confronted by the Brahmins (a sort of Indian version of the Pharisees) was not because he didn’t know, but because he didn’t want to provide a bunch of words and concepts that would then be clung to as articles of faith. The Buddha’s point through his silence was that the matter needs to be investigated by each practitioner for themselves. Ideas and beliefs should not be clung to as they might only get in the way of direct understanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To those who say that the soul is some fixed eternal essence, we say that that idea is wrong. And to those who say that there is no eternal essence, we also say that that idea is wrong. We posit a middle way, a central path or lifestyle based on neither extreme, but on life as it is now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Authority of Scripture?&lt;br /&gt;Some Christians like to criticize religions like Buddhism that do not have an emphasis on holy scriptures. Buddhism does have a large volume of writings which are considered sacred and special—some of them even supposedly written by mythological beings—but in the end, it is the practitioner living the dharma which is most important. Buddhist ‘scriptures’ are not generally viewed by Buddhists as special revelations to be followed but as injunctions and persuasions to acting and changing one’s point of view.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fundamentalist Christians who would use the Bible to try to prove the claims of their spiritual supremacist position are in trouble when they try to talk to Buddhists, because Buddhists, while respecting the urgency of the message from the Bible, will not view it as a direct revelation from God—otherwise those Buddhists would probably be Christian already and the whole argument is moot. No special authority is accorded to the Bible by Buddhists. In fact, Buddhists often quote the famous saying of the Buddha when he taught the Kalamas. The Buddha exhorts the Kalamas to not just follow or listen to the words and teachings of anyone because they are from spiritual authority, or from priests, or from traditions, or from Buddhas…but to see for themselves whether such teachings lead to more peace, happiness, and well-being and then decide to practice them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even those Buddhists who take on teachers, master-adept mentors, or even the gurus of the Tibetan traditions, are advised to study their prospective teacher before accepting their course of learning to see if that teacher follows a lifestyle that is conducive to well-being and enlightenment. In the same vein, all Buddhist ‘scriptures’ are to likewise be understood. Buddhists not only approach all Buddhist scriptures this way, but every other religion’s scriptures as well—in fact Buddhists are exhorted to approach all types of organized thoughts and spirituality in this way. So to say, as some Christian fundamentalists do, that Buddhists are simply skirting the ‘truth’ of Biblical authority is quite meaningless. If Christian fundamentalists are going to try and approach Buddhists, they may wish to try other more potent forms of communicating the meaning of their faith such as: reasoning, debate, and intelligent apologetics that are sensitive to the real Buddhist ideas, as opposed to the assumed pre-fabricated ideas invented by certain Christians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God?&lt;br /&gt;A major point of contention—or major issue—which seems to provoke anxiety among some Christians is the fact that Buddhism does not focus on any deity. Buddhism is at heart a non-theistic religion. It doesn’t get caught up in the extreme angles of either theism or atheism. Buddhism’s main focus is on this life and on humanity as it is now. Part of that focus is the issue of suffering and ways to ease and avoid suffering while helping others to do the same. Buddhism posits the radical idea that all humans have the capacity to become fully enlightened Buddhas, and thus that is the goal of Buddhist practices. (In fact Buddhism views Buddhahood as the pinnacle of human development and could lead one to conclude that just as an adult is to a child, so a fully awakened human being, a Buddha, is to an adult.) There are some schools of Buddhism that seem to exhibit theistic tendencies such as the Buddhists who pray to Amitabha or Guan-yin; and there are some Buddhist practices which seem similar to theistic religions, such as prayer or puja-devotion, but these tendencies and practices exist within a framework of ideas that posit that all beings are impermanent, empty of inherent existence, and are thus interrelated. In Buddhist cosmology, there is a realm of the gods, but such beings that inhabit that realm, while they are said to live long and enjoy a heavenly life, eventually decay and die; thus they are as impermanent as all other beings. So the Christian fundamentalist argument that Buddhism could not be an adequate religion because it has ‘no God’ bears no weight among Buddhists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life Denial?&lt;br /&gt;Many Christians of all types, and also many people of other traditions, like to make the often quoted claim that Buddhism is a self-negating and life-denying religion. But as often as that claim is repeated, even by supposed scholars of Buddhism, it is still not true. People like to confuse the often despairing statements of individual world-renouncing monks, or aspirants, written down at various times in history as applying to the whole of Buddhism. A better approach would be to see those statements in the context of the actual aspirants’ lives at the time they wrote them. Such statements were recorded so that later practitioners could be encouraged when they found themselves falling into similar outlooks. The statements cannot be supported by any of the core Buddhist teachings. It is common for many people from all sorts of religious traditions to make statements despairing of any meaning in life or in the world. Compare this approach with the way Christians approach their many historical leaders, some of whom made very anti-worldly statements. (Like many of the Calvinists, for example.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhism is in fact very life-affirming in that it says that happiness is the meaning of our existence and that in order to become more prone to happiness, it would be best to liberate ourselves from suffering in functional ways. The Buddhist focus on suffering and the necessity of getting relief/freedom from suffering is a kind of reality check to correct us of any fantasies we may have about life. In Buddhism, life is valued for its own sake and not because of any inherent intrinsic value that we humans would apply to it. We see that, like ourselves, all other beings strive for happiness and wish to escape from suffering. This means that all beings deserve reverence and respect, not because of any intrinsic independent value, but because they all have feelings we can empathize with. Many profound Buddhist practices gear us towards opening ourselves up from our limiting perspectives and to see that we are all limbs of life—another’s pain is our own, another’s happiness is likewise our own. So we act in the here and now to help life get free of suffering and to share happiness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supposed Errors of Buddhism?&lt;br /&gt;Fundamentalists are famous for claiming that other religions and ideas exist because of supposed ‘errors’ which lead followers of other religions to assert that their beliefs are valid. This claim is in direct opposition to Jesus Christ’s own admonishment to pull the plank of out of one’s own eye before complaining about the speck of dust in another’s. It is rather absurd for Christian fundamentalists to claim that Buddhism is full of spiritual errors, especially when such claims expose a general ignorance of Buddhism’s major teachings and focus. All the supposed errors that fundamentalists like to cite are actually based upon their own prejudices towards Buddhism (and all other non-Christian religions in general) and have nothing to do with actual Buddhism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of the supposed errors or problems that Christian fundamentalists find with followers of Buddhism can be found among the followers in any religion, including fundamentalist Christianity. Such errors and problems are thus more correctly understood as part of the human condition as a whole than as conditions within any particular religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Core Insights of Buddhism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buddhism is not for those who like to be told how to live their lives, who look constantly for guidance to an outside authority, whether in the form of priest, scripture or ritual."&lt;br /&gt;-Hammalawa Saddhatissa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"People talk about the 'real world,' but the real world that they talk about is not real; it is only conventional appearance. It's the way it seems to be, according to the way one has been conditioned to perceive it."&lt;br /&gt;-Ajahn Sumedho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhist Ethics: The Cultivation of Character for Its Own Sake&lt;br /&gt;Buddhist ethics are based on the axis of the awareness of suffering and methods to relieve suffering. Like other systems, discipline is needed. After a lifetime of accrued habitual reactions, we need to apply ourselves towards liberation from those habits. Buddhism offers meditative practices geared towards showing practitioners for themselves the reality of how suffering arises and what we could do to relieve that suffering. As one becomes more aware and participant with life as it is now, there is less of a tendency to act out of selfishness and/or aggression. Thus it can be said that we develop character for its own sake, and not for the sake of gaining a better position, whether in this life or some afterlife. Though a side effect of this cultivation of awareness is that we can feel more relaxed and more liable to happiness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Altruism and virtue both come from our awareness that we are all inter-related in this thing we call life—similar to the golden rule of "Do unto others as you wish them to do unto you."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four Ennobling Truths to Understand, Integrate, and Act Upon&lt;br /&gt;The following discussion follows closely the way in which Stephen Batchelor discusses the Four Noble Truths. I feel that his approach is the most liberating there is. Anyone who wishes to read his discussion for themselves should refer to his Buddhism Without Beliefs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Understanding is so much more than intellectual agreement. In the Buddhist view, this idea of understanding is essential in approaching the four ennobling truths of existence that the Buddha made central to his teachings. Instead of merely accepting the truths as dogmas to believe in, we must understand them. So instead of agreeing that ‘Life is suffering’, Buddhists are challenged by the first ennobling truth to understand the anguish with which we are faced in life. It is obvious to anyone who chooses to lift the veil of fantasy from their hearts that life contains despair, pain, frustration—all could be called suffering or anguish, whether they are of a large nature, such as death or disease, or of a smaller nature such as having to wait in line when we wish not to. In understanding anguish, we can find the origins of anguish—which according to Buddhist teachings is usually found in our attachments to our cravings. So we then get to the second ennobling truth that we need to let go of the origins of anguish (cravings) in order to get free of it. Letting go does not mean ‘destroy, deny, or repress’ these origins. It means to simply ‘let go’ of them. By our awareness that anguish is, like all things, impermanent, we watch its origins (our attachments to our cravings and the very cravings themselves) arise and let them pass away without continuing to attach ourselves to them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhism holds the promise that if one tries out the path of awareness in this way for themselves, one can then begin to realize that anguish does, in fact cease when its origins are let go of. Thus the third noble truth that anguish’s cessation is to be realized—not only realized in the mental sense of seeing that it happens, but also in the sense of ‘realize’ as in to make real, or to integrate this cessation into one’s lifestyle. How to do that? By cultivating a lifestyle in which we can allow this to happen, which is the forth ennobling truth. We are urged to creatively engage ourselves and the world by ‘understanding anguish, letting go of its origins, realizing its cessation, and cultivating a lifestyle of doing so.’ This is ‘basic’ Buddhism, if such a thing can ever be said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enlightenment/Buddhahood&lt;br /&gt;The central focus of Christianity is Salvation. But there is also the post-Salvation goal of honoring of God. The central focus of Buddhism is suffering and how to free beings from suffering. The ultimate goal of Buddhism is Buddhahood, the complete awakening and liberation of not only the individual practitioner, but of the entire world. Here the two religions have some similar ideas about realizing each respective goal: Compassion, Love, and Commitment to the Path. But beyond that they have differing methods and outlooks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fundamentalist Christians believe that Salvation is the necessary requisite for a correct understanding and relationship with God which leads to an eternal afterlife existence in Heaven. From their beliefs, this seems logical. Buddhism, however, viewing life as it is now as the central focus of its practice, sees the heaven/hell dualism more as conditional aspects of our life brought about by mental anguish/happiness and material situations. Buddhism posits that we are basically good and that life in and of itself is basically good, thus it speaks of liberation (sometimes mistranslated as ‘Salvation’) in terms of real world suffering/anguish. One is liberated to the extant that they can let go of that which leads to suffering/anguish. There is no final or ultimate reward or punishment, although Buddhist teachings consider it a tragic waste of life if one doesn’t realize liberation to any degree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirvana is simply the taste of that above-mentioned liberation. It is not some otherworldly disembodied spiritual realm of heavenly ecstasy. Nor is it some sort of null state where the self disappears into a void. (Such a null state is considered an ‘immature’ idea in light of Buddhist ideas of interdependence which states that something can not simply arise out of nothing. All phenomena (and this means us too) come from a complex series of chaotic interdependent causes. Thus nothing really ever disappears. They simply change into other things or other conditions.) In fact, the historical Buddha refused to define Nirvana precisely because it must be experienced by each practitioner for themselves in this lifetime. Doctrines of hellish or heavenly afterlife scenarios were common in the lifetime of the Buddha and that is why he refused to define what liberation would mean in terms of afterlife scenarios. He didn’t want people to delude themselves into thinking of Nirvana as something that already fitted into their pre-conceived schemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This ‘taste of liberation’ leads to the radical embodied illumination of awareness that is known as ‘enlightenment’. When that happens, the practitioner is either a fully awakened Buddha or is well along a lifestyle towards becoming such a being. And that evolution into a Buddha is what Buddhism is all about. Even if a Buddhist thinks she will go to a heavenly place after this life, they would only look forward to it because such a place may provide better opportunities for spiritual development. While a Christian might look forward to an eternity of life in heaven, a Buddhist wouldn't recognize even heaven as a permanent place. While a Buddhist would probably not mind being reborn in a heavenly place, the Buddhist's goal is not heaven, but Buddha-hood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion&lt;br /&gt;The above ideas are the core or central Buddhist insights. Christians who would try to speak with Buddhists should study them and keep them in mind. Just as Christians feel that people should approach their religion from within its own insights, so I want those Christians to also keep in mind that likewise Buddhism must be approached as ‘Buddhism’ (from within Buddhist understandings) and not from someone’s own misunderstandings and prejudices.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have also treated and explained the various Christian misunderstandings of Buddhism in an effort to educate and inform those who would wish to convert Buddhist practitioners. Why try to convert us? Only a prejudiced spiritual supremacist argument could justify such an activity. If we agreed with or cherished your belief systems, we would already be one of you. Remember this if you remember nothing else, (though this document is written down so you can refer to it in case of any forgetful lapses), Buddhists don’t go around knocking on your doors to try to convert you to their practice and ways of viewing the world. Why do we not do so? Because we accept the diversity of approaches to this world as being necessary and healthy for the human race as a whole. We are okay with you believing in your way of life, so long as it doesn’t interfere with our lives. You should accord us the same respect. Otherwise, you’re just being childish, regardless of your excuses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Irreverend Hugh, KSC &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-3935825462739854599?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/3935825462739854599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=3935825462739854599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/3935825462739854599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/3935825462739854599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/buddhism-for-christians.html' title='Buddhism for Christians'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-8166456310983975524</id><published>2008-12-08T21:21:00.001+07:00</published><updated>2008-12-08T21:23:51.673+07:00</updated><title type='text'>Against Buddhism    Anti-Buddhist Arguments</title><content type='html'>&lt;p&gt;Copy paste from here:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;kwelos.tripod.com/argumentsagainstbuddhism.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Buddhists seem to think there is something non-material about the mind. But surely the mind is just the brain, or maybe a program running on the brain?    Humans are machines - biological computers or automata.  The universe does not  require our existence -  we are accidents of evolution. Our minds cease to exist when the brain dies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    You're referring to the philosophical view known as Materialism or Physicalism, which states that the human mind has no spiritual dimension.  Buddhist philosophers reject the computer model of the mind and can produce rational arguments against the mind being any kind of machine.  The universe does require our existence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     All religions are just memes - cultural viruses that take over gullible minds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The belief that all religions are parasites of the mind is known as the 'meme theory' of religion, and has recently been gaining ground among anthropologists and sociologists. The theory states that memes perform two types of actions:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (1) Take control of their victims' minds.&lt;br /&gt;    (2) Encourage their victims to spread the meme to others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Though the meme theory accurately predicts and explains the behavior of the more intolerant and aggressive cults, Buddhism does not seem to possess any of the properties we would expect from a meme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Science has made religion obsolete.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    There is a common belief that the need for God as an explanation of the unknown has been eliminated by science. This may well be so but not all religions believe in a 'God of the gaps'. Buddhism can get along quite happily without needing to speculate on the existence or non-existence of a First Cause. The real threat to all religions comes not from the closing of the gaps which God used to occupy (such as origin of the species), but from the doctrine of mechanistic materialism, which teaches that there is no spiritual dimension to human life. Buddhism at present seems to be the only coherent philosophical system  which is capable of resisting materialism and emphasizing human spiritual potential.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Religions cause terrorism and war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    With stories of religious terrorism seldom out of the news nowadays, there is a tendency in the West to regard all Asian religions as dangerous fanatical cults. Non-Western religions are often lumped together as being barbaric, primitive, intolerant and aggressive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    This is discriminatory, ethnocentric, and very unfair to Buddhism. Buddhism is peaceful, promotes the arts and sciences, forbids wars of conquest, and has been associated with some very advanced civilizations, such as that of King Ashoka in the third century BCE.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Any religion which propagates by intimidation rather than reasoned argument, or needs to silence its critics by the bomb and bullet, is obviously deeply insecure. Fanatical aggression demonstrates that a religion's memoids know consciously or subconsciously that their beliefs are based on insecure foundations, which cannot withstand rational examination.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Transcendental and religious experiences are the result of the disordered functioning of the brain. People get spiritual experiences under the influence of electromagnetic fields such as Transcranial Magnetic Stimulation (TMS),   and from psychedelic drugs such as mescalin, LSD, Psilocybe semilanceata and Amanita muscaria. All these transpersonal experiences are simply delusions caused by disruption of the normal electrochemical activity of the neurones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yes and No. There's no doubt that people experience other realms of reality under the influence of TMS  or hallucinogenic drugs. In these conditions the functioning of the brain is indeed abnormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    But - you've got to ask yourself - what is the purpose of the normal functioning of the brain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The brain hasn't evolved to represent ultimate reality to the mind. The brain is a device which has evolved by selection of the fittest (not the most truthful) to project  the delusion of the inherently-existing self onto the mind. This delusion of a permanent, unchanging self is 'imputed' over the ever-changing transitory collection of biochemical building blocks that makes up the physical aspects of a sentient being.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    These biochemical building blocks are brought together by a loose temporary alliance of selfish genes. This alliance comes into existence at conception and ends at death. When the brain is functioning *correctly*, it is acting in the best interests of the alliance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The brain is the alliance's propaganda machine, and it is constantly exhorting the mind to:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    " Preserve ME !   Reproduce ME ! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    This is the psychological mechanism that gets hijacked by memes. The memetic propaganda spiel then becomes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    " Preserve ME-ME!   Reproduce ME-ME! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The correct functioning of the propaganda machine is obviously necessary for the preservation and procreation of the species. However, to perform its function the brain needs to project a distorted view of the self onto the mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Disruption of this ceaseless barrage of ME-ME propaganda, by biochemical or biophysical agents, enables the mind to temporarily push the doors of perception ajar and peek beyond mundane biologically-determined appearances.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    However, the only way to open the doors completely and permanently is through meditation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The use of hallucinogenic fungal secondary metabolites for religious purposes (ethnomycology), although common in Shamanism, is deprecated in most (all?) traditions of Buddhism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Isn't the aim of Buddhism to become completely detached from everyone and everything?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    No,  the idea that Buddhists seek total detachment or indifference to others is disinformation originated in the Papal Bull  'Crossing the Threshold of Hope'. The truth is that Buddhists are motivated by compassion to work towards being reborn into situations where they can reduce the suffering of all sentient beings, and ultimately lead them all to enlightenment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · There so many different schools of Buddhism, more than there are sects of Christianity. They can't all be right so most of them must be wrong. Which is the real Buddhism?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    One reason there are so many different schools is that   Buddhists accept and respect diversity. It is said that there are 84,000 gateways to the Dharma (Buddha's teachings).  Buddha presented the same underlying philosophy with different 'user-interfaces' according to the predispositions of the students. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    When you think about it, people are so different in character, temperament and experience that it would be surprising if one size did fit all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Another reason for the great diversity is that, in general, the various schools of Buddhism don't persecute one another.  There have been a few local exceptions, but nothing on the scale of the fratricidal sectarian wars which have waged for hundreds of years within Christendom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    So the answer to the question 'which form of Buddhism is right?' - It's the one that's right for you!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Why doesn't Buddhism claim to have all the answers like a proper religion should?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buddhism is the only major religion which acknowledges a large area of ignorance about external matters. Unlike other religions, it does not even attempt to answer questions like 'What is the purpose of life, the universe and everything?' . Buddhism regards such questions as at best unanswerable and probably intrinsically meaningless. The only purpose of life is what we personally give to our own lives. Buddha suggested that the most meaningful use of life was to seek liberation from ignorance, suffering and the cycle of samsaric rebirth, both for one's self and others. But this 'meaning' does not reside 'in the sky' or in any way outside of the individual, and it cannot be imposed, but must be freely chosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Most other religions go further than Buddhism, and if asked 'What is the purpose of life, the universe and everything?' will usually come up with an answer along the lines of 'To fulfill the will of God.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    This invites the further question of 'What is the will of God', which usually brings forth an answer to the effect that 'God's will is to create life, the universe and everything'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · All religions are irrational because they reject evolution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buddhism is the one exception, and is quite happy with the theory of evolution. In fact Buddhist philosophy actually requires evolution to take place -  all things are seen as being transient, constantly becoming, existing for a while and then fading.  The idea of unchanging species would not be compatible with Buddhist ontology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · All religions teach that nasty things happen to non-believers when they die. So what happens to non-Buddhists.  Are they doomed to everlasting hell-fire, or does Buddha send them back as worms?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Most religions teach that they are the one true path to salvation and all those people who chose (or were brought up in) the wrong paths will be judged by the True Religion's Founder and thrown into hell. This doctrine is known as exclusivism or judgementalism.  Buddhism is not exclusivist. To a Buddhist any person guided in their activities by compassion is regarded as following a beneficial spiritual path.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Unfortunately,  in Christianity exclusivism went to extreme lengths with many denominations (at one time) claiming that they were the one true faith and the other denominations of Christianity were corrupt, or even in league with anti-Christ.   This situation has improved during the past 50 - 100 years, but 'Extra ecclesiam nulla salus' - No salvation outside (our)  Church -  is still the official policy of the Vatican.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    However, this does raise an interesting theoretical scenario which demonstrates the absurdities of exclusivism:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Presumably a Salvation Army officer who devoted her life to rescuing drug addicts and alcoholics would, nevertheless,  have to be regarded as damned for all eternity by traditional Catholic theologians. A Buddhist, on the other hand, would look upon such a person as an advanced spiritual practitioner - a Bodhisattva or possibly even a manifestation of Buddha Tara .  (One of the more surprising teachings of Mahayana Buddhism is that Buddhas can appear in whatever form is beneficial to sentient beings, and Buddhas needn't necessarily be Buddhist!) . So, taken to its logical conclusion, Christian exclusivism would require one Christian to regard a fellow Christian as damned, while a Buddhist would recognize her as a saint! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Buddhists don't believe in Jesus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Most Buddhists have a great respect for Jesus Christ and His teachings (though this may not always extend to some activities of certain Christian churches.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    However, one of the main problems that Buddhists find with Christianity is that its philosophical basis is weak. Many of its fundamental tenets, such as the doctrine of Original Sin,  have their origins in a literal interpretation of Genesis, and are completely at variance with scientific evidence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Christianity is thus unable to mount a convincing defense against materialism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    In contrast, Buddhism is a robust and consistent philosophical system which does not suffer from internal logical contradictions. Nor does Buddhism make claims which are at variance with biological, geological and cosmological reality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    You don't need to believe six impossible things before breakfast to be a Buddhist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Buddhists are stupid and sentimental about animals!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Some schools of philosophy, such as dualism, believe that animals are automata and have no feelings, so it doesn't matter what you do to them.   Buddhists believe that animals are capable of qualitative experience, including suffering and happiness. They are sentient beings and who undergo dukkha just as we do and should consequently be regarded as  objects of compassion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Buddhists don't believe in God!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    It depends what you mean by God. Within the various schools of Buddhism there is a great deal of variation in the belief in a Supreme Being. Beliefs range from atheism, through agnosticism, monotheism ('ground of being')  up to multifaceted aspects of Enlightened Mind...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    One of the pre-eminent deities of Tibet is actually a Goddess - Tara, the compassionate rescuer and Holy Mother. She is often seen as being equivalent to the Virgin Mary in the Christian pantheon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    At a more philosophical rather than devotional level, there are certain difficulties with accepting the Judeo-Christian idea of an omniscient, omnipotent, logically necessary being or First Cause. Within Buddhist philosophy this view of God would be regarded as suffering from a number of internal logical contradictions, and possibly a rather dubious politically motivated history.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · Buddhists waste their time in meditation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The practices of meditation fulfill the following purposes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (1)  In the short term, meditation produces physical and mental calming effects. It also reassures us in a very immediate way that out mind is not purely physical and is not limited by one birth and one death.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (2) In the medium term, meditation make us less irritable, less likely to go to extremes, and pleasanter to live and work with.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (3)  In the long term, meditation enables us to take spiritual realizations acquired in this life  across the 'tomb to womb' barrier and into our next rebirth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    · The Pope is against Buddhism because it is a negative soteriology and the Pope is infallible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Whatever the Pope says must be true. We know whatever he says is true because he's infallible. We know he's infallible because he says so and whatever he says must be true. We know whatever he says is true because he's infallible. We know he's infallible because he says so and whatever he says must be true...Alright you've got me beat!   I can't argue against such Jesuitically cunning logic. (Small attempt at ironic humor...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-8166456310983975524?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/8166456310983975524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=8166456310983975524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/8166456310983975524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/8166456310983975524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/against-buddhism-anti-buddhist.html' title='Against Buddhism    Anti-Buddhist Arguments'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-7322055992627577216</id><published>2008-12-08T20:38:00.002+07:00</published><updated>2008-12-08T20:49:57.782+07:00</updated><title type='text'>Apakah Indonesia negara Islam/ negeri kaum muslimin?</title><content type='html'>Kalau definisi negeri kaum muslimin adalah "wilayah yang secara sah dimiliki oleh kaum muslimin atau pernah dimiliki oleh kaum muslimin walapun saat ini tengah dikuasai oleh orang-orang kafir" &lt;br /&gt;Apakah Indonesia adalah negeri kaum muslim? apakah umat islam pernah secara sah menjadikan Indonesia negara muslim? mungkin ada yg bilang: "mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim" dan "dahulu kerajaan-kerajaan muslim menduduki tanah Indonesia" - hal ini mungkin benar, tapi tidak berlaku bagi seluruh Indonesia. &lt;br /&gt;Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua (menurut artikel ini) adalah milik kaum muslim, karena pernah ada kerajaan muslim yang menduduki. &lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan Bali, Flores, dan Timor? mana muslimnya?  Dan jangan heran kalau Indonesia jadi negara Islam mereka akan otomatis memisahkan diri. Dan jangan mengklaim daerah mereka berdasarkan bahwa itu milik kalum muslim, karena muslim tidak pernah jadi mayoritas disana, apalagi berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Khilafah Islamiyah yang didengang-dengungkan selama ini mencakup daerah apa saja? setahu saya mencakup singapura dan malaysia juga. Kalau begitu, mungkin lebih baik perjuangan diserahkan pada kaum hindu-budha yang dahulu menguasai majapahit, toh mereka terbukti berhasil mempersatukan daerah2 tersebut, daripada hizbut tahriryang tak ada hasil. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Malah mereka lebih punya legitimasi untuk berkuasa dan menjadikan negara Indonesia negara hindu-budha, toh semua daerah asia tenggara pernah masuk kekuasaan mereka dan semua penduduknya menganut hindu-budha sebelum kedatangan islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Negara Islam seperti yang ada di Arab menjadikan Islam sebagai dasar negara, dasar pemerintahan, dan dasar hukum. Indonesia berdasarkan Pancasila dan hukumnya warisan Belanda, pemerintahannya republik. Hukum Islam di Indonesia tidak berlaku universal hanya untuk kalangan tertentu dan urusan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pancasila mengakui adanya keberagaman dan kesamaan antar warga negara. Kita sebagai negara demokratis harus menghormati HAM dan kebebasan beragama&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-7322055992627577216?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/7322055992627577216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=7322055992627577216' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7322055992627577216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7322055992627577216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/apakah-indonesia-negara-islam-negeri.html' title='Apakah Indonesia negara Islam/ negeri kaum muslimin?'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-5294434165344912898</id><published>2008-12-08T20:35:00.001+07:00</published><updated>2008-12-08T20:37:41.324+07:00</updated><title type='text'>All we want is peace</title><content type='html'>Ini kejadian nyata yang saya baru alami tadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok belajar kami mengundang seorang guru besar dari jauh untuk&lt;br /&gt;memberikan pelajaran/ ceramah Dhamma selama beberapa hari. Setiap&lt;br /&gt;hari dibagi menjadi beberapa sesi, dengan waktu istrirahat diantara&lt;br /&gt;sesi tersebut. Hari ini pagi-pagi saya ikut sesi pertama, lalu waktu&lt;br /&gt;break pergi karena ada urusan di tempat lain.&lt;br /&gt;Sesi kedua mulai jam 7, saya terlambat karena tempat saya jauh. Jam&lt;br /&gt;7.30 baru tiba dengan nafas tidak teratur dan cape. Tetapi saya masih&lt;br /&gt;berusaha berkonsentrasi mengejar ketertinggalan setengah jam dan&lt;br /&gt;berusaha menangkap materi yg sedang dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba.... belum 5 menit saya duduk, ada suara teriakan&lt;br /&gt;membahana... pakai speaker lagi... suara orang sholat! suaranya sih&lt;br /&gt;lumayan merdu dan gakpapa, kalau saja dia tidak menutupi suara sang&lt;br /&gt;guru besar. Kontan konsentrasi semua orang terganggu. Kita tidak lagi&lt;br /&gt;bisa dengan hikmat mendengar penjelasan (ga kedengeran) terganggu&lt;br /&gt;oleh suara dari luar.&lt;br /&gt;Padahal bayangkan, kita sudah pakai speaker yang lumayan buat sebuah&lt;br /&gt;ruangan besar. Tempat kita lumayan tertutup, suara dari dalam tidak&lt;br /&gt;terdengar di luar. Suara mobil di luar yang bising juga lumayan tidak&lt;br /&gt;terdengar. Tappiiii, suara azan ini bisa dengan jelas dan keras masuk&lt;br /&gt;ke dalam ruangan kami. Speakernya berapa kekuatannya tuh? berapa&lt;br /&gt;harganya.&lt;br /&gt;Yang lebih penting, perlu ya keras-keras teriak gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertama kalinya saya benar-benar kesal dengan speaker masjid.&lt;br /&gt;Untung tadi cuma 5menitan.&lt;br /&gt;Dari dulu juga udah ga suka tapi kita masih toleran karena tidak ada&lt;br /&gt;kerugian nyata.&lt;br /&gt;Kan cuma susah tidur waktu subuh, susah tidur siang, dan susah tidur&lt;br /&gt;semalaman kalau malam takbiran. Susah tidur karena ada 3 masjid di&lt;br /&gt;sekeliling rumah yang bersaingan meneriakan Allahuakbar. Masih&lt;br /&gt;ditolerir. Kalau nggak, saya yang digebuk massa (muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang kejadiannya special. Kesempatan langka bagi kita untuk&lt;br /&gt;belajar bersama seorang guru besar. Terganggu karena hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali cuma Islam yang ibadahnya mengganggu orang lain 5x sehari,&lt;br /&gt;setiap jumat siang, setiap malam di bulan puasa karena ada yg teriak-&lt;br /&gt;teriak bangunin semua orang, dan setiap malam takbiran karena mereka&lt;br /&gt;tidak membiarkan kita tidur dengan tenang sama sekali....&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan masih ada artikel menarik di bawah;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Islam's War Against Buddhism   &lt;br /&gt;By Dhammajarat&lt;br /&gt;FrontPageMagazine.com | Wednesday, April 04, 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar”! The tinny P.A. system tore asunder the pre-dawn peace and quiet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was jolted in my mind, almost like experiencing a car wreck, suddenly and without any warning. This totally incongruous sound intruded upon and encompassed everything, causing even the birds to rustle in the darkness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was just after 4 a.m. I was seated underneath the holy Maha Bodhi Tree in Bodh Gaya, in the state of Bihar in India. It was a few days past the full moon of May 2004, a few days past Veesak. This was my second visit to this unparalleled location, the site of the Lord Buddha’s attainment of full Enlightenment over 2,500 years ago. Now, towards the end of my 10 day stay, I had applied for and been granted the great honor of permission to spend the night within the Maha Bodhi compound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My plan was to spend the entire night practicing seated meditation, walking meditation, and circumambulation of the great Maha Bodhi Stupa. The air was warm and my practice was going very well as I alternated between the three practices, as the hours passed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The beautiful waning full moon light filtering through the glistening leaves of the Maha Bodhi Tree, the soft fluttering of the leaves, the serene quiet, took me back to that time long ago when the Buddha himself had sat very near this same exact spot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Or so I thought…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The mussein’s call to prayer for the faithful of Islam, here in this most sacred location to all of Buddhism, ripped me back to modern reality. I was stunned! How could this be? Here in one of the most significant spots of Buddhism, loud speakers come on at four in the morning every day, to shock and intrude upon meditators and Buddhist practitioners using this spot for that which it has to offer in its most special way?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How could this be allowed? It is…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Muslim call to prayer seemed to go on and on…..20 minutes to a half-hour later, the scratchy recording thankfully ended and quiet returned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My concentration was thoroughly blown. Instead of following my breath, I found myself looking at the great distraction and paradox I had just experienced. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I thought about Mecca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Could any other religion intrude itself there in the holiest of places to Islam, as the tenets of Islam had so intruded itself here in the holiest place of Buddhism?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No way! I could imagine immediate death being visited upon anyone that would even try – that is, if they would be admitted anywhere close to the Muslims’ holy Kabah – let alone be allowed to set up a loud public address system that would broadcast the message of another religion across the courtyards of the Grand Mosque, or any other Moslem religious site. The hypocrisy was astounding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After awhile, I ceased to be so shocked and began to calm down. I began to see that this was merely a continuation of a long and sad trespass against Buddhism perpetrated by the faith of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my previous visits to India, I had visited every site that was specific to the actual life of the Lord Buddha. At every location the pattern was the same: Just the partial foundations remaining of what had once been great Stupas or elaborate religious universities of Buddhist learning and practice. Even the place of the Buddha’s birth had been destroyed and buried, with modern day excavations only now giving some restoration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I had learned from guides on location, and then from further studies once I returned home, that these locations had all been laid to waste in the early Moslem invasions of India, starting in the 900’s by Turkic hordes issuing forth from what is now Afghanistan, and continuing for over a thousand years until the Mughal era. A prolonged and calculated assault, an assault designed to wipe an entire belief, an entire religion, off the face of the Earth. The long history of Islam, being spread by the sword and by fire, had left its indelible mark on these wonderful peaceful, harmless, legacy sites of Buddhism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I learned how the monks and nuns and religious students were slaughtered without mercy and piled up and burned, and all terrified survivors were driven like dry leaves before a strong wind, out of the region of India entirely, wherever this Islamic wind blew.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was told this is how Buddhism actually came to Tibet and Southeast Asia, by Buddhists fleeing for their lives! My faith had been rendered a refugee faith via the tender mercies of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I learned how Islam was particularly unkind and brutal to Buddhists, because to Moslems the Buddhist represented the most reprehensible type of human personality: the “atheist” holding no monotheistic God image as their object of worship and veneration. We were worse even than the far more numerous Hindus, with their vast pantheon of multiple gods. The Buddhists, to the Muslims, only worshipped the image of a man, and no God higher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apparently they did not bother to look into the philosophies of Buddhism any more deeply. That was enough for the sword to come down and the fire to be applied. And so they have over the centuries until today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember, some years back, before the gripping situations that we face today had quite come in to focus for many of us, I followed the story of the great Buddhas of Bamiyan, in sad and war torn Afghanistan. The Russian war was over, and the rein of the Taliban was in full force, but they were not content to merely rule the people with an iron hand by the strictest applications of Sharia law. They had to physically erase the “infidel” past, as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember shedding tears as I saw the footage of those magnificent Buddhas, the tallest ancient statues in the world, being reduced to rubble by explosive charges and artillery shells. I remembered hearing on the news footage, that same cry of “Allahu Akbar!” – as the dust of Bamiyan settled to reveal the emptiness of the destruction. The same cry that destroyed my meditative absorption under the Bodhi Tree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, I pray we never hear this call in this our home, America. Not until and unless Islam totally and completely reforms itself after over a thousand years of ravaging and sweeping all others before it.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-5294434165344912898?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/5294434165344912898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=5294434165344912898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/5294434165344912898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/5294434165344912898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/all-we-want-is-peace.html' title='All we want is peace'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-2198669533307119876</id><published>2008-12-08T20:26:00.002+07:00</published><updated>2008-12-08T20:34:44.390+07:00</updated><title type='text'>Tuhanku ya terserah aku</title><content type='html'>&lt;strong&gt; "Meskipun diakui hukum, tetapi agama Buddha tidak mengakui KeTuhanan yg&lt;br /&gt;&gt; Maha Esa??&lt;br /&gt;&gt; &lt;br /&gt;&gt; Terus krn tidak mengenal konsep "God", berarti Buddhist = atheist?? dan&lt;br /&gt;&gt; menurut hukumindonesia maka umat budha harus di tindak pidana karena&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&gt; tidak bertuhan."&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;Pertama, lihat dulu kenapa sampe ada Undang-Undang anti Ateis? Karena trauma akan komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Perubahan penting terhadap agama-agama juga terjadi sepanjang era Orde Baru. [12] Antara tahun 1964 dan 1965, ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia, bersama dengan beberapa organisasi, mengakibatkan terjadinya konflik dan pembunuhan terburuk di abad ke-20. [13] Atas dasar peristiwa itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk menindak para pendukung PKI, dengan menerapkan suatu kebijakan yang mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan pendukung PKI adalah ateis.[12] Sebagai hasilnya, tiap-tiap warganegara Indonesia diharuskan untuk membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka. Kebijakan ini mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu bukanlah salah satu dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga berpindah ke Kristen atau Buddha. [12]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara formal negara Indonesia hanya mengakui 6 agama yaitu: Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Pengakuan ini diberikan melalui UU No 1/PNPS Tahun 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 60an-70an Agama Buddha dipertanyakan Ke-Tuhan-an-nya. Ada ga sih? Dan kalau ada Dia ngapain dan dipanggil Siapa? Karena Definisi Agama di Indonesia adalah ada Tuhan, Nabi/Rasul/Kitab, upacara keagamaan. (Yang jelas-jelas ngambil dari konsep Islam. Jesus itu dianggap Tuhan bukan Nabi, Hindu ga punya Nabi.) Untungnya Agama Buddha masih bisa selamat. Nabi = Buddha, Kitab = Tripitaka (yg versi mana aja ok), Upacara banyak. Tuhan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada mungkin tidak ada dalam agama Buddha. Karena jarang disebut. Tidak disangkal, tidak disetujui, kadang disinggung topiknya sedikit, tapi ga pernah dijelaskan tuntas. Tergantung alirannya juga. Theravada ga pernah bahas. Mahayana bahas tapi tidak jelas. Vajrayana bahas secara dalam, tapi maaf, ajaran itu agak rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi zaman dahulu kala ketika Borobudur dibangun, yang dianut di Indonesia adalah agama Buddha, aliran Vajrayana. Dan masih terselamatkan dong kitab suci asli bikinan kita sendiri, ditulis dalam bahasa kawi/ jawa kuno, berjudul Sanghyang Kamahayanikan. Disitu tertulis bahwa ada "sesuatu yang mutlak... dst" dan punya banyak nama. Kita ambil satu nama dan dijadikan nama resmi untuk memanggil Tuhan Yang Maha Esa untuk umat Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ya agama Buddha di Indonesia ber-Tuhan. Ada di kitabnya. Diakui Hukum Indonesia. Tapi beda dengan konsep Tuhan agama lain. Kok beda? Ya terserah kita dong, wong agama kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kalaupun masih bersikeras bahwa agama Buddha ga ber-Tuhan, so what? Yang salah malah peraturan hukum anti-ateis itu. Yang salah pemerintah terlalu ikut campur urusan beragama. ga percaya? Baca artikel di bawah: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pluralisme dan Kerukunan Hidup Beragama &lt;br /&gt;Oleh John A Titaley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADALAH merupakan sesuatu yang wajar bila terdapat perbedaan di antara manusia, bahkan di antara anak kembar sekalipun. Patutlah disadari bahwa penyebab dasar yang membedakan di antara anak kembar adalah faktor bawaan genetiknya. Gen yang dimiliki setiap manusia adalah sesuatu yang kodrati, bawaan yang tak bisa ditolak. Ketika seseorang lahir, bawaan gennya sudah begitu. Hanya robot atau mesin saja yang sama spesifikasinya karena dibuat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawaan genetik manusia tidaklah dapat ditentukan menurut kemauan seseorang, sekalipun belakangan ini orang sudah bisa melakukan rekayasa genetika manusia. Adanya perbedaan ba-waan gen manusia itulah yang me-nyebabkan sifat, karakter dan do-rongan seorang manusia tidak sama dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, perbedaan di antara ma-nusia adalah sesuatu yang kodrati adanya. Menolak perbedaan adalah mengingkari kodrat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah halnya pluralisme. Yang dimaksud dengan pluralisme adalah kenyataan bahwa dalam suatu kehidupan bersama manusia terdapat keragaman suku, ras, budaya dan agama. Keragaman agama itu terjadi juga karena adanya faktor lingkungan tempat manusia itu hidup yang juga tidak sama. Lingkungan hidup empat musim bagi seseorang akan membuat orang tersebut memiliki karakter dan pembawaan yang berbeda dengan orang yang hidup dalam lingkungan yang hanya terdiri dari dua musim, seperti musim hujan dan musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bukan saja suatu lembaga yang berhubungan dengan Yang Mutlak saja, tetapi juga adalah lembaga sosial. Dia adalah bagian dari kebudayaan karena dia dihidupi dalam kehidupan manusia sehari-hari, sama seperti kehidupan lainnya. Karenanya, sebagai suatu institusi sosial, agama itu juga adalah bagian dari satu sistem kebudayaan. Jadi kalau kebudayaan manusia itu beragam, maka dapat dipahami pula kalau agama itu pun juga beragam. Mengapa agama itu juga bagian dari kebudayaan? Karena manusia tidaklah dapat hidup di luar kebudayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang yang Mutlak itu kekal adanya. Dia universal, dalam pengertian berada bagi manusia dan alam. Dia sesuatu yang sudah jadi, mutlak dan kekal, melampaui batas-batas kemanusiaan dan kebudayaannya. Ketika Yang Mutlak, yang universal itu berhubungan dengan manusia, bagaimanakah manusia menanggapi hubungan Yang Mutlak tersebut? Sudahlah pasti bahwa manusia akan menanggapi hubungan itu dengan keterbatasan simbol-simbol budayanya. Salah satu simbol tersebut adalah bahasa. Supaya suatu hubungan (komunikasi) bisa terjadi haruslah ada kesamaan bahasa. Entah Yang Mutlak yang menggunakan bahasa manusia itu, atau manusia yang harus menyesuaikan dirinya untuk memahami bahasa Yang Mutlak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terakhir yang terjadi, maka sudahlah pasti manusia tidak akan dapat memahami kehendak Yang Mutlak itu secara sempurna. Selalu saja terjadi reduksi (pengurangan) dalam upaya manusia memahami Yang Mutlak itu. Reduksi terjadi karena dalam memahami kehendak Yang Mutlak itu, manusia melakukannya dengan bahasa dan simbol-simbol budayanya sendiri, bukanlah simbol dan bahasa Yang Mutlak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah keterbatasan manusia di hadapan Yang Mutlak itu. Dalam keadaan seperti itu, maka tidak seorang manusia pun yang dapat mengklaim bahwa dia dapat memahami kehendak Yang Mutlak itu secara sempurna. Pastilah terjadi penyaringan-penyaringan (reduksi) dalam komunikasi tersebut. Reduksi itu adalah wajar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau Yang Mutlak itu atas kehendak bebasnya sendiri juga berkomunikasi dengan manusia-manusia lainnya di berbagai belahan bumi ini dan ditanggapi oleh manusia-manusia tersebut dengan cara yang sama, sehingga terbentuk berbagai macam agama sebagai upaya untuk hidup menurut kehendak Yang Mutlak itu, bisakah satu agama menyatakan dirinya sendiri sendiri sebagai satu-satunya agama yang paling benar? Kalau klaim seperti itu yang terjadi, maka sudahlah pasti itu adalah klaim-klaim manusia, bukan klaim Yang Mutlak. Menyatakan dirinya sendiri yang paling benar dan paling murni adalah sifat manusia. Yang mutlak tidak butuh klaim seperti itu. Jadi, pluralisme agama adalah sesuatu yang sangat wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam komunikasi itu Yang Mutlak menggunakan ''bahasa dan budaya'' manusia tertentu supaya bisa dimengerti seluruhnya dengan baik, pertanyaan yang patut dikemukakan adalah bisakah seorang manusia merekam proses komunikasi itu dalam ingatannya ibarat video-camera dan kemudian menuturkan ulang proses komunikasi itu secara sempurna tanpa reduksi seperti halnya video itu diputar ulang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau Yang Mutlak itu boleh berkomunikasi dengan cara itu bagi seseorang dalam suatu budaya tertentu, apakah Yang Mutlak itu tidak dibolehkan berkomunikasi dengan cara seperti itu bagi manusia lain di tempat lain, pada waktu yang lain dengan menggunakan bahasa yang lain pula? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar bahwa Yang Mutlak itu hanya ingin berkomunikasi dengan manusia dari bangsa tertentu dan tidak ingin atau tidak boleh mengkomunikasikan kehendakNya kepada manusia dan bangsa yang lain? Sudahlah pasti yang biasanya suka mengklaim seperti itu adalah manusia juga dan itu adalah juga sifat manusia. Karenanya, pluralisme adalah sesuatu yang manusiawi adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme seperti ini berarti pula bahwa manusia pemeluk suatu agama tertentu yang lahir ribuan tahun yang lalu, harus bisa menerima lahirnya atau bermunculannya suatu agama baru pada masa kini atau masa depan. Karena Yang Mutlak itu memiliki kehendak bebas, dan manusia juga mengalami perkembangan kebudayaan dalam kehidupannya, maka selalu saja bisa terbentuk agama yang baru di mana-mana dan di masa depan. Ini juga sesuatu yang kodrati adanya. Membatasi kehadiran agama-agama lain dari masa lalu dan di masa depan, sudah tentu bukanlah kehendak Yang Mutlak. Itu adalah kecenderungan manusia yang selalu ingin menang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka pemikiran seperti inilah, maka pluralisme agama harus diterima. Masalahnya, apakah di Indonesia hal itu sudah terjadi? Ketika bangsa ini menerima hanya lima dan kemudian menjadi enam agama resmi, dan celakanya kelima-keenam agama itu bukanlah agama-agama yang lahir dari pangkuan budaya bangsa Indonesia sendiri, apakah bangsa ini sudah berbuat adil kepada dirinya sendiri? Tidakkah dengan mengingkari hak hidup agama-agama lain di luar lima-enam agama itu, bangsa ini telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, yaitu hak untuk beragama? Jadi ketidakadilan dalam kehidupan beragama juga sedang dipraktikkan bangsa ini, tanpa harus menunjuk ketidakadilan bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan terhadap kelima-enam agama itu juga sesuatu yang patut dipersoalkan. Kriteria apakah yang digunakan? Dalam suatu diskusi di Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama RI, disebutkan bahwa dasar yang digunakan pada waktu lampau adalah ''agama yang banyak di anut bangsa ini''. Lalu kalau ada kriteria agama yang banyak dianut, bagaimana dengan agama yang penganutnya tidak banyak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditinjau sedikit lebih jauh agama-agama seperti apa yang dimaksud dengan yang penganutnya tidak banyak itu? Kalau dicari dalam perbendaharaan agama-agama di Indonesia, maka sudah tentu akan ditemui agama-agama seperti Perbegu di Sumatera Utara, Kaharingan di Kalimantan, Marapu di pulau Sumba, Kejawen di pulau Jawa, Aluk Tadolo di Tana Toraja, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama-agama itu, meski jumlah penganutnya sedikit, tidaklah berarti bahwa eksistensinya diingkari. Kriteria seperti itu seharusya tidak boleh dijadikan alasan penolakan pengakuan eksistensi suatu agama. Kalau hendak ditolak eksistensi suatu agama, maka harus ada dasarnya. Dasarnya itu tidaklah lain dari pada definisi agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam cara perumusan mudah Swidler dan Mojzes, suatu agama harus memiliki empat struktur yang diringkas dengan empat C. Pertama adalah adanya pengakuan (creed) tentang sesuatu yang mutlak benar bagi kehidupan manusia. Kedua adalah kode (code) tindakan (etika) yang timbul sebagai buah dari kepercayaan itu. Ketiga adalah kultus (cult) sebagai upaya manusia untuk menyelaraskan dirinya dengan yang dipercayainya itu. Terakhir adalah umat (community) yang bersama-sama memiliki kepercayaan yang sama. Ketika empat struktur ini ada dalam suatu lembaga sosial, maka lembaga sosial itu adalah agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang selalu menghubungkan agama dengan isi kepercayaan (creed), terutama kalau itu berhubungan dengan Yang Mutlak yang disebut Tuhan, Dewa, dengan berbagai nama yang diberi manusia kepadaNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan bangsa Yahudi, Yang Mutlak itu disebut Yahweh, di tanah Arab: Allah SWT, di kalangan Kekristenan: Tritunggal, di India: Krisna, di Bali: Sang Hyang Widi Wasa, di Toraja: Puang Matua, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu yang terjadi, bagaimana dengan agama Buddha yang tidak memiliki unsur kepercayaan terhadap Yang Mutlak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, definisi seperti di atas menolong, karena dia tidak perlu merepotkan isi kepercayaan. Kalau isi kepercayaan harus diperhitungkan, maka akan terjadi dua macam agama. Agama yang theistik, yaitu agama yang memiliki isi kepercayaan terhadap Yang Mutlak itu dalam bentuk ilah (theos: Bahasa Yunani) dan agama non-theistik, yaitu agama yang isi kepercayaan terhadap yang mutlak itu bukan dalam bentuk ilah, akan tetapi gagasan misalnya. Kalau ini bisa diterima, maka agama Buddha adalah agama non-theistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari definisi seperti ini, lalu akan muncul banyak sekali agama, karena hampir setiap suku di Tanah Air ini, memiliki agamanya masing-masing. Ya, mereka harus diakui sebagai agama dan masuk dalam kategori agama yang penganutnya sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah ada pengakuan terhadap keragaman agama seperti ini, bagaiman mengatur supaya mereka bisa hidup rukun? Aturlah mereka seperti halnya mengatur kehidupan warga negara biasa saja. Tidak perlu diatur lewat suatu departemen agama seperti yang ada sekarang ini. Pengaturan seperti sekarang ini hanya mempertontonkan kepada dunia bahwa negara ini sedang mempraktikkan diskriminasi struktural dan pelanggaran hak asasi manusia secara transparan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaminlah hak mereka untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya, dan aturlah mereka dengan hukum nasional apabila terjadi pelanggaran dalam kehidupan beragama itu, tanpa harus merumuskan undang-undang yang secara khusus mengatur agama. Terlalu banyak nanti yang harus diatur. (24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-John A Titaley, guru besar ilmu teologi pada PPs Sosiologi Agama UKSW dan guru besar luar biasa pada CRCS UGM. http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/09/opi4.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-2198669533307119876?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/2198669533307119876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=2198669533307119876' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/2198669533307119876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/2198669533307119876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/tuhanku-ya-terserah-aku.html' title='Tuhanku ya terserah aku'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-7203561445904595984</id><published>2008-12-08T20:18:00.002+07:00</published><updated>2008-12-08T20:20:46.514+07:00</updated><title type='text'>Statistik dalam debat agama</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sering di internet orang menulis, agamaku adalah yang paling banyak pengikutnya di dunia. Atau "Agamaku berkembang pesat di belahan dunia ini dan semakin banyak orang insyaf yg join"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal hal tersebut tidak berarti apa apa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah orang yang percaya sesuatu tidak membuktikan apapun. Kebenaran &lt;br /&gt;tetap kebenaran, walaupun tiada orang yang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah jika ada agama yg mempunyai pengikut terbanyak berarti itu &lt;br /&gt;agama yg benar. Seperti kata mereka, "anda mengatakan miliaran orang &lt;br /&gt;salah?" mungkin saja kan? Miliaran orang bodoh bergabung ke agama yg &lt;br /&gt;salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas orang di dunia percaya Tuhan. Apakah berarti Tuhan ada? &lt;br /&gt;belum tentu. Itu hanya berarti mayoritas orang percaya Tuhan, titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka bingung kalau ada yg promosi agamanya dgn bilang "yang &lt;br /&gt;gabung makin banyak lho, kita kedua terbesar di dunia" dll. Banyak &lt;br /&gt;bukan berarti benar. Ini kan bukan DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masih ga percaya, ada satu contoh. Dahulu ada satu fakta yg &lt;br /&gt;dipercayai semua orang selama ribuan tahun, tak terbantahkan. Kalau &lt;br /&gt;kamu beda pasti dicap aneh. Hampir semua peradaban besar zaman dulu &lt;br /&gt;percaya pada fakta ini. Sepertinya hampir semua orang zaman dulu &lt;br /&gt;percaya pada hal ini, sehingga hal ini sudah umum dan tak pernah jadi &lt;br /&gt;persoalan sampai abad pencerahan di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa? Hampir semua penduduk dunia sampai saat itu menganggap bumi itu &lt;br /&gt;datar. Masa orang sebanyak itu bisa salah? yang bener ah kamu ini! &lt;br /&gt;Jangan meresahkan warga, ntar kuadukan ke polisi biar kamu ditangkap &lt;br /&gt;dengan alasan menyebarkan keyakinan sesat. Masa dia bilang bumi itu &lt;br /&gt;bulat pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-7203561445904595984?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/7203561445904595984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=7203561445904595984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7203561445904595984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7203561445904595984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/statistik-dalam-debat-agama.html' title='Statistik dalam debat agama'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-7299768969456551903</id><published>2008-12-08T19:55:00.001+07:00</published><updated>2008-12-08T19:55:29.602+07:00</updated><title type='text'>And why I am not Christian</title><content type='html'>Alasan utama saya tidak mau masuk Kristen karena Kristen kontradiktif dalam hal ini. Kalau ada freewill, berarti jumlah orang yang masuk surga belum pasti, karena tergantung orang tersebut memilih apa dalam hidupnya (Tuhan Maha Adil). Tapi Tuhan Maha Tahu, jadi dia sudah tahu pilihan anda, dengan kata lain freewill yang anda punya cuma ilusi. Salah memilih, berarti neraka abadi (Mana Maha Pengasih dan pengampun?) &lt;br /&gt;Antara iman atau perbuatan yang menentukan keselamatan juga belum jelas. Lagian, jumlah orang yang terselamatkan nanti kan memang sudah fixed, 144.000 orang, dan nama2nya sudah tercatat di Buku Keidupan waktu Tuhan bikin dunia ini. Yang lainnya ditakdirkan masuk neraka.  Dengan kata lain, menurut teman gua yg pernah menjadi misionaris ke gua, kalo saya terima Yesus dan percaya dia sebagai juru selamat, berarti saya masuk ke dlm kelompok yang beruntung itu dan memang sudah ditakdirkan dari sananya begitu. Kalau saya menolak, sayang sekali tapi memang sudah ditakdirkan begitu. FREE WILL???? entahlah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tegas menolak agama yang tidak memberi pilihan bagi mayoritas orang selain masuk neraka. Tuhan macam apa itu? Seandainya ada Tuhan, pasti bukan Tuhan seperti itu. Kalaupun memang Tuhannya seperti itu, tidak adil dan kejam banget, saya tidak menyesal. Lebih baik di neraka abadi daripada di Surga Tuhan yang jahat dan picik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti bahwa Kristen berdasarkan konsep predestinasi dan secara implisit mentakdirkan nasib semua manusia dari awal waktu ada di kitab wahyu perjanjian baru. Waktu bacanya saya kaget. Berikut cuplikannya, yang warna biru itu yang predestinasi. Tapi ada ayat kontradiktif yang warna merah yang secara implisit mengatakan manusia dihakimi berdasarkan pilihannya/perbuatannya. Aneh? makanya aku ga mau masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Wahyu&lt;br /&gt;Bab13&lt;br /&gt;1and he stood upon the sand of the sea. And I saw a beast coming up out of the sea, having ten horns, and seven heads, and on his horns ten diadems, and upon his heads names of blasphemy. 2And the beast which I saw was like unto a leopard, and his feet were as [the feet] of a bear, and his mouth as the mouth of a lion: and the dragon gave him his power, and his throne, and great authority. 3And [I saw] one of his heads as though it had been smitten unto death; and his death-stroke was healed: and the whole earth wondered after the beast; 4and they worshipped the dragon, because he gave his authority unto the beast; and they worshipped the beast, saying, Who is like unto the beast? And who is able to war with him? 5and there was given to him a mouth speaking great things and blasphemies; and there was given to him authority to continue forty and two months. 6And he opened his mouth for blasphemies against God, to blaspheme his name, and his tabernacle, [even] them that dwell in the heaven. 7And it was given unto him to make war with the saints, and to overcome them: and there was given to him authority over every tribe and people and tongue and nation. 8And all that dwell on the earth shall worship him, [every one] whose name hath not been written from the foundation of the world in the book of life of the Lamb that hath been slain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 17&lt;br /&gt;1And there came one of the seven angels that had the seven bowls, and spake with me, saying, Come hither, I will show thee the judgment of the great harlot that sitteth upon many waters; 2with whom the kings of the earth committed fornication, and they that dwell in the earth were made drunken with the wine of her fornication. 3And he carried me away in the Spirit into a wilderness: and I saw a woman sitting upon a scarlet-colored beast, full of names of blasphemy, having seven heads and ten horns. 4And the woman was arrayed in purple and scarlet, and decked with gold and precious stone and pearls, having in her hand a golden cup full of abominations, even the unclean things of her fornication, 5and upon her forehead a name written, MYSTERY, BABYLON THE GREAT, THE MOTHER OF THE HARLOTS AND OF THE ABOMINATIONS OF THE EARTH. 6And I saw the woman drunken with the blood of the saints, and with the blood of the martyrs of Jesus. And when I saw her, I wondered with a great wonder. 7And the angel said unto me, Wherefore didst thou wonder? I will tell thee the mystery of the woman, and of the beast that carrieth her, which hath the seven heads and the ten horns. 8The beast that thou sawest was, and is not; and is about to come up out of the abyss, and to go into perdition. And they that dwell on the earth shall wonder, [they] whose name hath not been written in the book of life from the foundation of the world, when they behold the beast, how that he was, and is not, and shall come. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 20&lt;br /&gt;12And I saw the dead, the great and the small, standing before the throne; and books were opened: and another book was opened, which is [the book] of life: and the dead were judged out of the things which were written in the books, according to their works. 13And the sea gave up the dead that were in it; and death and Hades gave up the dead that were in them: and they were judged every man according to their works. 14And death and Hades were cast into the lake of fire. This is the second death, [even] the lake of fire. 15 And if any was not found written in the book of life, he was cast into the lake of fire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 21&lt;br /&gt;23And the city hath no need of the sun, neither of the moon, to shine upon it: for the glory of God did lighten it, and the lamp thereof [is] the Lamb. 24And the nations shall walk amidst the light thereof: and the kings of the earth bring their glory into it. 25And the gates thereof shall in no wise be shut by day (for there shall be no night there): 26and they shall bring the glory and the honor of the nations into it: 27 and there shall in no wise enter into it anything unclean, or he that maketh an abomination and a lie: but only they that are written in the Lamb's book of life.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-7299768969456551903?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/7299768969456551903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=7299768969456551903' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7299768969456551903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7299768969456551903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/and-why-i-am-not-christian.html' title='And why I am not Christian'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-1269499804014652434</id><published>2008-12-08T19:48:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:49:53.654+07:00</updated><title type='text'>Buddhisme Ilmiah?</title><content type='html'>Buddhisme Ilmiah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibilang Buddhisme ilmiah bukan berarti Agama Buddha sudah&lt;br /&gt;tidak menerima hasil penelitian ilmuwan jaman sekarang, bukan pula&lt;br /&gt;bahwa kita sudah menemukan dan mengetahui semuanya. Hanya saja ada&lt;br /&gt;dua hal yakni: Agama Buddha jarang sekali bertentangan atau menolak&lt;br /&gt;terobosan baru ilmu pengetahuan. Kedua: Metode Buddhis itu ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ke poin 2 dulu, apa itu metode ilmiah? dan bagaimana bisa&lt;br /&gt;dikatakan buddhisme itu ilmiah? mengutip Peter D Santina:&lt;br /&gt;The scientific tradition teaches that when we observe a problem, we&lt;br /&gt;must first formulate a general theory and then a specific hypothesis.&lt;br /&gt;The same procedure obtains in the case of the Four Noble Truths. Here&lt;br /&gt;the general theory is that all things must have a cause, while the&lt;br /&gt;specific hypothesis is that the cause of suffering is craving and&lt;br /&gt;ignorance (the second noble truth). This hypothesis can be verified&lt;br /&gt;by the experimental method embodied in the steps of the Eightfold&lt;br /&gt;Path. By means of the steps of this path, the soundness of the second&lt;br /&gt;noble truth can be established. In addition, the reality of the third&lt;br /&gt;noble truth, the cessation of suffering, can be verified, because&lt;br /&gt;through&lt;br /&gt;cultivating the path craving and ignorance are eliminated and the&lt;br /&gt;supreme happiness of nirvana is attained. This experimental process&lt;br /&gt;is repeatable, in keeping with sound scientific practice: not only&lt;br /&gt;did the Buddha attain the end of suffering but so, too, we can see&lt;br /&gt;historically, did all those who followed his path to the end.&lt;br /&gt;Therefore, when we look closely at the teaching of the Buddha, we&lt;br /&gt;find that his approach has a great deal in common with the approach&lt;br /&gt;of science.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha juga seperti dokter. Kamu itu sakit lho, kamu harus mau&lt;br /&gt;diobati. Buktinya kepalamu pusing, keringat terlalu banyak, muka biru&lt;br /&gt;bintik2, dan tubuh lemas. Didiagnosa dulu kenapa apa sebab&lt;br /&gt;penyakitnya. Oh tenang saja penyakit ini bisa disembuhkan, sembuhnya&lt;br /&gt;itu begini2 dan terus begitu. Trus Begini lho cara ngobatinnya. kamu&lt;br /&gt;harus minum obat ini berapa kali sekali setelah makan dll.&lt;br /&gt;Selain itu, Buddha juga bilang, jangan percaya kalo belum merasakan&lt;br /&gt;sendiri. Lihat dan buktikan sendiri! Sembuh ga setelah makan obat?&lt;br /&gt;kalo ga mungkin kamu harus ganti dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Buddhis lebih bersifat mengobati pikiran, mengubah sikap dalam&lt;br /&gt;diri seseorang menjadi positif dan lebih bahagia. Jadi kosmologinya&lt;br /&gt;memang sedikit, dan kalaupun ada, kebanyakan berasal dari budaya&lt;br /&gt;setempat yg bisa kita pisahkan dari ajaran Buddha asli (contoh:&lt;br /&gt;cerita sungokong). Jadi pertanyaan yg jadi polemik buat agama lain&lt;br /&gt;terasa bodoh dalam Buddhisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi berapa umur bumi? ga tau.&lt;br /&gt;KApan manusia pertama lahir dan siapa namanya? emang penting ya?&lt;br /&gt;Dunia itu diciptakan atau ada sendiri? Yg penting sekarang ada&lt;br /&gt;Evolusi itu bener? iya kali&lt;br /&gt;Kreasionis yg bener? mungkin. tetep aja kita menderita apapun&lt;br /&gt;jawabannya&lt;br /&gt;Tuhan ada ga? Kalau ada trus kenapa, karmaku, hidupku, ya tanggung&lt;br /&gt;jawabku. Tuhan ada atau tidak yg penting aku hidup yg benar.&lt;br /&gt;Kiamat bentar lagi! ga percaya. kalaupun iya trus kenapa, kan karmaku&lt;br /&gt;yg menentukan aku ntar kemana setelah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anu bisa melakukan mukjizat *****, ikut dia yuk di*** supaya kita&lt;br /&gt;selamat masuk sur**.&lt;br /&gt;Mukjizat bukan berarti isi kepala suci, kata Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, orang beranggapan Buddhisme itu ilmiah, habis tiap ada penemuan&lt;br /&gt;orang Buddhis bilang: tidak bertentangan dengan Tripitaka. Yah wong&lt;br /&gt;emang jarang ada yg ilmiah tertulis di Tripitaka makanya kita adem&lt;br /&gt;ayem. Sampai sekarang yang terbukti ilmiah itu cuma ada dari sisi&lt;br /&gt;psikologis, bidang otak manusia, dan kata2 Buddha tentang banyaknya&lt;br /&gt;planet di alam semesta yg sejalan dengan sains modern. Cukup bisa&lt;br /&gt;dibanggakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya hal ini tidak lepas dari pesaingnya. Tentu saja Buddhis&lt;br /&gt;dibilang satu2nya yg tidak menentang sains, karena yg lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memenjarakan Galileo waktu dia bilang Bumi itu bulat dan&lt;br /&gt;mengelilingi matahari. Sekarang pembaca Gfresh bilang sudah ada di&lt;br /&gt;kitab ***** kalau bumi itu bulat, cuma ya dulu kelewat waktu baca.&lt;br /&gt;Jadi mereka bilang Tuhan yg pertama bilang bumi itu bulat bukan&lt;br /&gt;Galileo. Kasian banget si galileo ya?&lt;br /&gt;2. Menentang penemuan penangkal petir, takut Tuhan tidak bisa&lt;br /&gt;menghukum orang jahat.&lt;br /&gt;3. Menentang Bayi Tabung , in vitro fertilization. ga natural&lt;br /&gt;4. Menolak dokter waktu sakit. Mereka percaya doa saja dapat&lt;br /&gt;menyembuhkan. Obat itu bukan ciptaan Tuhan?&lt;br /&gt;5. Menolak bedah mayat untuk keperluan penelitian medis, memperlambat&lt;br /&gt;300 tahun masa penelitian. Katanya nanti takut ga bisa dibangkitkan&lt;br /&gt;kembali waktu second coming Jesus.&lt;br /&gt;6. Melarang penggunaan chloroform untuk meringankan sakit ibu&lt;br /&gt;melahirkan. gere** percaya bahwa sakit itu sepaket dengan hukuman&lt;br /&gt;Tuhan atas dosa hawa.&lt;br /&gt;7. Bilang ngapain belajar soal bintang, soal laut, soal bumi, soal&lt;br /&gt;semuanya, karena Al**h maha tahu dan maha mengetahui, Dia maha&lt;br /&gt;pencipta, dia adalah penciptamu dan pencipta seluruh alam, termasuk&lt;br /&gt;bintangnya, lautnya, buminya, semuanya, maka Sembahlah Al**h satu2nya&lt;br /&gt;Tuhan dan nabi M nabi terakhirnya. Intinya kamu sembah dia dan ga&lt;br /&gt;usah belajar, karena agama ini adalah yg paling diridhoi Al**h.&lt;br /&gt;Bingung kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mengatakan bahwa Ikan Paus adalah ikan, pisces dalam taxonomy&lt;br /&gt;hewan, bukan mamalia.&lt;br /&gt;"And God created great whales, and every living creature that moveth,&lt;br /&gt;which the waters brought forth abundantly, after their kind, and&lt;br /&gt;every winged fowl after his kind: and God saw that it was good."--&lt;br /&gt;Genesis 1:21 (KJV)&lt;br /&gt;And of course the Bible contains some stray verses specifically (and&lt;br /&gt;definitively?) "resolving" the whale-fish conundrum. In (English&lt;br /&gt;versions of) the Old Testament, Jonah is a swallowed by a fish; in&lt;br /&gt;Matthew he spends three days in the whale's belly. And since the&lt;br /&gt;Bible is the inerrant Word of God (even after translating it into&lt;br /&gt;English), as a matter of simple (Christian) logic, a whale must&lt;br /&gt;therefore "obviously" be a fish.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-1269499804014652434?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/1269499804014652434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=1269499804014652434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1269499804014652434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1269499804014652434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/buddhisme-ilmiah.html' title='Buddhisme Ilmiah?'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-8637698623720334833</id><published>2008-12-08T19:34:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:36:01.498+07:00</updated><title type='text'>Why I choose Buddhism</title><content type='html'>aku kebetulan jodoh dengan Agama Buddha, dan merasa&lt;br /&gt;memang cocok dengan pribadiku. Aku pelajari agama2 lain, dan tetap&lt;br /&gt;merasa Agama Buddha paling benar. Karena cuma ajaran Buddha yang&lt;br /&gt;paling mengutamakan logika, paling toleran, cinta kasihnya paling&lt;br /&gt;luas, dan sejarahnya paling bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang menawarkan pindah, saya tidak mau. Saya sudah&lt;br /&gt;bertekad tidak akan ganti agama di kehidupan ini. Kenapa? alasannya&lt;br /&gt;sebenarnya sangat personal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Agama Buddha paling susah. Yang lain sepertinya gampang, malah ada&lt;br /&gt;cara instan dapat keselamatan. Buat saya, yg palsu itu biasanya yg&lt;br /&gt;paling membual, seperti tukang obat teriak2 di jalan bilang obatnya&lt;br /&gt;bisa cespleng menyembuhkan semua penyakit, termasuk kanker stadium IV.&lt;br /&gt;Saya lebih percaya kalau diberitau oleh seorang dokter yg qualified&lt;br /&gt;"kamu itu sakitnya udah parah. Sembuhnya lama. Itupun kalo kamu beli&lt;br /&gt;obat yg mahal, minum 3x sehari, ga makan yg ini dan itu, olahraga&lt;br /&gt;ringan tiap pagi. Itupun sembuhnya bertahap. Terserah kamu mau ikut&lt;br /&gt;anjuran saya atau tidak. Oya, biaya konsultasi saya gratis, dan&lt;br /&gt;obatnya kamu beli di tempat lain ya."&lt;br /&gt;Agama Buddha seperti itu, tujuannya jauh, sulit dicapai, butuh praktik&lt;br /&gt;yang katanya sampai bbrp kali kehidupan, butuh karma baik yg banyak,&lt;br /&gt;dan godaan serta rintangannya banyak. Hasil cepat yg bisa didapat&lt;br /&gt;paling kebahagiaan sementara dalam 1 kehidupan, kalo bisa. Nah, masa&lt;br /&gt;ada Tukang Obat palsu promosiin obat susah begini. Ga akan laku.&lt;br /&gt;Berarti ini obat asli kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Agama Buddha literaturnya paling banyak.&lt;br /&gt;Saya ini orangnya senang membaca dan cepat menangkap jika poin moral&lt;br /&gt;disampaikan lewat cerita. Dari kecil sudah sering baca kisah anak2&lt;br /&gt;bergambar yang ada poin moralnya, yg mengajarkan serakah tidak baik, dll.&lt;br /&gt;Saya baca alkitab habis dari PL sampai PB dalam beberapa hari. ga&lt;br /&gt;berkesan. Mungkin karena isinya sulit dimengerti pakai konteks modern,&lt;br /&gt;atau butuh kuliah teologi dan tafsir alkitab. Aku jelas tidak membaca&lt;br /&gt;bagian silsilah (si anu memperanakkan si B, terus punya anak si C,&lt;br /&gt;dst) atau angka (jumlah roti yang dimakan hari itu berjumlah&lt;br /&gt;593822...) dan taurat (musa bilang jangan menjemur baju hari sabat&lt;br /&gt;karena...) habis menurutku ga penting.&lt;br /&gt;Yg kubaca adalah cerita orang2 israel dan Yesus. Kebanyakan cerita&lt;br /&gt;sejarah atau dongeng. Moralnya ga ada, dikit, atau aku tidak mengerti&lt;br /&gt;(habis isinya mukjizat, perang, bencana, pembunuhan,perbudakan, dan&lt;br /&gt;pengkhianatan) Akhirnya cuma berguna waktu pelajaran agama katolik dan&lt;br /&gt;memperluas wawasan.&lt;br /&gt;Alquran tidak pernah baca lengkap tapi baca kutipan2 nya. Isinya&lt;br /&gt;kebanyakan perintah2 yg tidak akan kuturuti. lagian aku tidak suka&lt;br /&gt;gaya bahasa Quran.&lt;br /&gt;Aku menikmati membaca kisah2 kebijaksanaan Tionghoa klasik, kitab&lt;br /&gt;konghucu yang ada moral Cina zaman dulu, terutama kalo ada ceritanya.&lt;br /&gt;Tapi kisah seperti itu terbatas jumlahnya dan sulit dapatnya.&lt;br /&gt;Tapi kalau agama Buddha, literaturnya tidak habis dibaca.&lt;br /&gt;Dari Tripitaka, Sutta Pitaka berisi khotbah2 Guru Buddha dan banyak&lt;br /&gt;yang berupa cerita perumpamaan. Banyak juga khotbah2 yang diberi&lt;br /&gt;komentar berupa konteks situasi dimana khotbah itu diberikan. Jadi&lt;br /&gt;banyak sekali ceritanya!&lt;br /&gt;423 syair Dhammapada semua ada background story. 510 kisah Jataka/&lt;br /&gt;kelahiran Siddharta yg lampau berupa cerita2 moral. Kemudian ada&lt;br /&gt;cerita mengenai Alam Peta, alam Dewa, Kisah murid2 Buddha, Kisah&lt;br /&gt;Kehidupan Pangeran Siddharta sendiri, dan banyak lagi yang sampai saat&lt;br /&gt;ini saya yakin masih ada yang belum saya baca. Padahal saya sudah&lt;br /&gt;membaca ratusan buku Buddhis.&lt;br /&gt;Keluar dari kanon Tripitaka Pali Theravada, Sutra Mahayana tidak kalah&lt;br /&gt;banyak. Dengan gaya bahasa yang lebih indah, lebih panjang, Sutra&lt;br /&gt;Mahayana menjelaskan poin yang sama dengan Theravada tetapi dengan&lt;br /&gt;ceita yang berbeda. Jumlah Sutra Mahayana banyak sekali, tetapi&lt;br /&gt;sayangnya kebanyakan berada dalam bahasa China atau Tibet atau sudah&lt;br /&gt;terbakar waktu orang Muslim membakar Universitas Nalanda di India.&lt;br /&gt;Tapi Masih banyak cerita tentang orang2 suci setelah Buddha yang&lt;br /&gt;muncul di abad2 kemudian. Cerita tentang guru2 besar ini memberi&lt;br /&gt;inspirasi bagi kita untuk praktek. Ada Nagarjuna, Marpa, Milarepa,&lt;br /&gt;Bodhidarma, Sesepuh ke-6 Hui Neng, Atisha, Tsongkhapa, Naropa, Ma Tsu,&lt;br /&gt;Lin Chi, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai Sekarang, saya masih suka menemukan cerita Buddhis yang belum&lt;br /&gt;pernah saya baca. Maklum, Tripitaka ada 3 lemari dan belum semuanya&lt;br /&gt;selesai ditranslate, dan guru2 besar biografinya masih berlimpah.&lt;br /&gt;Mengingat saya ini orang yang tipenya belajar dari cerita, agama&lt;br /&gt;Buddha cocok kan dengan saya? Kalau agama lain ceritanya itu2 saja,&lt;br /&gt;cepet bosan. Agama lain yang ceritanya juga banyak itu Hindu. Tapi&lt;br /&gt;orang Hindu saja menganggap Buddha itu "cabangnya" Hindu, jadi kalo&lt;br /&gt;saya pindah ke Hindu sama aja boong kan?&lt;br /&gt;Jadi karena itu saya tidak akan pindah agama. Saya mengakui agama&lt;br /&gt;Buddha, seperti agama lain tidaklah tanpa cacat. Buddha mungkin&lt;br /&gt;sempurna mengajar, tapi kan murid2nya tidak sempurna dan ada&lt;br /&gt;kemungkinan berbuat salah. Tapi saya yakin saya sudah memilih yang&lt;br /&gt;&lt;p&gt;terbaik dari pilihan2 yang tidak sempurna.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Aku sendiri tidak bisa menemukan kelemahan yang signifikan dari agamaku. Mengutip&lt;br /&gt;temanku (yg Kristen) berkata "bagaimana caranya kamu membantah agama&lt;br /&gt;yang bilang 'cintailah semua makhluk' dan 'hiduplah secara harmonis',&lt;br /&gt;dan penuh kata 'damai' 'sabar' 'bahagia'?"&lt;br /&gt;Karena aku juga belajar agama lain, aku belajar bahwa hampir semua&lt;br /&gt;agama punya kritiknya, ada kelemahannya. Aku lihat situs2 perbandingan&lt;br /&gt;agama sampai situs2 yang menyerang agama lain di internet.&lt;br /&gt;Kesimpulannya? Cuma Agama Buddha yang paling tidak bisa diserang. Dari&lt;br /&gt;situ aku makin mantap bahwa pilihanku benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-8637698623720334833?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/8637698623720334833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=8637698623720334833' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/8637698623720334833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/8637698623720334833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/why-i-choose-buddhism.html' title='Why I choose Buddhism'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-1836985027620783450</id><published>2008-12-08T19:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:22:18.511+07:00</updated><title type='text'>Penganut Buddhisme tidak menyembah berhala!</title><content type='html'>Berikut ini argumen2 untuk menjelaskan bahwa Buddhist tidak menyembah&lt;br /&gt;patung batu dan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembah berhala, apakah tolok ukurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bertemu dengan doktor pribadi saya, beliau bertanya&lt;br /&gt;tentang kegiatan religius saya. Dan ketika beliau telah mengetahui&lt;br /&gt;merek religius saya, ia menanggapi bahwa saya adalah pemuja batu dan&lt;br /&gt;saya disarankan untuk memiliki pegangan hidup agar di hari kiamat&lt;br /&gt;yang telah dekat, saya dapat tertolong sehingga dapat terlahir di&lt;br /&gt;surga abadi.&lt;br /&gt;Lalu saya bertanya mengapa saya disebut pemuja batu? Jawabnya, saya&lt;br /&gt;menyembah patung, pemuja berhala. Ketika saya bertanya balik, apakah&lt;br /&gt;benar saya menyembah patung, beliau mengatakan ya, karena menurutnya,&lt;br /&gt;saya menghormat dan memohon-mohon rejeki, keselamatan, nama baik,&lt;br /&gt;keberhasilan dan sebagainya kepada patung yang terbuat dari batu dan&lt;br /&gt;tak ada bedanya dengan animisme, penyembah batu, religius berhala.&lt;br /&gt;Kemudian saya berkata: "Pernyataan dokter seolah-olah menunjukkan&lt;br /&gt;bahwa perihal pikiran saya, sepertinya dokter lebih tahu dari pikiran&lt;br /&gt;saya sendiri, darimanakah dokter mengetahui bahwa saya menghormat dan&lt;br /&gt;memohon¬mohon kepada patung, apakah dokter dapat membaca pikiran&lt;br /&gt;saya, tolong dokter memberikan petunjuk bagi saya."&lt;br /&gt;Maka iapun menjawab bahwa kebanyakan, orang yang bertingkah laku di&lt;br /&gt;depan patung adalah demikian, sehingga diambil kesimpulan bahwa itu&lt;br /&gt;menyembah dan memohon kepada patung.&lt;br /&gt;Kemudian saya mengutarakan kenyataan yang umum terjadi di&lt;br /&gt;masyarakat: "Ketika rakyat suatu negara mengangkat tangan di atas&lt;br /&gt;kening sambil menghadap tegap ke arah Bendera Nasional Negara itu&lt;br /&gt;pada kesempatan suatu upacara, apakah makna tingkah laku orang-orang&lt;br /&gt;itu, apakah mereka menyembah atau meminta-minta sesuatu kepada&lt;br /&gt;bendera itu?"&lt;br /&gt;Dokter saya menjawab, bahwa menghadapi Bendera Nasional, mereka tidak&lt;br /&gt;menyembah atau meminta-minta sesuatu namun saat itu mereka mengenang&lt;br /&gt;perbuatan / kualitas jasa para pahlawan sehingga secara alamiah&lt;br /&gt;mereka tergugah batinnya untuk mencontoh perbuatan patriot para&lt;br /&gt;pahlawannya."&lt;br /&gt;Kemudian saya lanjutkan: "Mungkinkah penganut religius yang dokter&lt;br /&gt;sebut sebagai penyembah patung/berhala ta di, ketika berlutut di&lt;br /&gt;bawah atau di hadapan patung itu, pikirannya diliputi oleh sifat-&lt;br /&gt;sifat baik yang mencontoh orang yang dilambangkan dengan patung tadi,&lt;br /&gt;atau mengenang kualitas-kualitas batin yang baik dari orang yang&lt;br /&gt;dilambangkan dalam bentuk patung tersebut, seperti halnya rakyat yang&lt;br /&gt;sedang mengenang jasa para pahlawannya?"&lt;br /&gt;Beliau menjawab bahwa hal itu sangat mungkin. Lantas saya kembali&lt;br /&gt;bertanya:"Apabila sangat mungkin, maka orang-orang yang melakukan&lt;br /&gt;dengan pikiran baik tersebut apakah masih layak disebut sebagai&lt;br /&gt;penyembah patung/berhala, dan jika saya melakukan seperti itu, apakah&lt;br /&gt;tepat pernyataan dokter pertama tadi bahwa saya adalah penyembah&lt;br /&gt;berhala?"&lt;br /&gt;Tentu saja tidak, jawab dokter itu. Saya melanjutkan: "Mengapa&lt;br /&gt;tidak?" Karena penyembah berhala artinya menyembah dan meminta-minta&lt;br /&gt;sesuatu (rejeki, keselamatan, dan sebagainya) kepada sesuatu yang&lt;br /&gt;tidak diketahuinya, demikian jawab dokter tersebut.&lt;br /&gt;Mendapat jawaban seperti itu, saya berkata dan bertanya kepada&lt;br /&gt;beliau: "Maaf dokter, saya gembira sekali karena dokter berbicara&lt;br /&gt;sangat terbuka, oleh karena itu ijinkanlah saya bertanya secara&lt;br /&gt;terbuka dan jangan terlalu dipikirkan apabila pertanyaan saya ini&lt;br /&gt;tidak tepat; bagaimanakah dengan dokter, apakah dokter dalam&lt;br /&gt;mempraktikkan kepercayaan religius yang dokter anut, acap kali&lt;br /&gt;meminta atau memohon sesuatu (keselamatan, rejeki dsb) kepada sesuatu&lt;br /&gt;yang sesungguhnya dokter tidak/belum pahami/ketahui (tanpa atau&lt;br /&gt;dengan media tertentu seperti patung atau hal lainnya)?"&lt;br /&gt;Beliau terdiam sejenak, kemudian menanggapi:"Selama ini saya telah&lt;br /&gt;salah pandangan tentang kepercayaan religius yang kamu pahami,&lt;br /&gt;maafkan saya! Sesungguhnya selama ini, saya lebih berhala&lt;br /&gt;dibandingkan kamu, karena saya sering kali meminta atau memohon&lt;br /&gt;sesuatu (rejeki, kesehatan, keselamatan dan sebagainya) kepada&lt;br /&gt;sesuatu yang memang saya belum/tidak pahami/ketahui. Maafkan saya,&lt;br /&gt;selama ini saya telah salah menilai kepercayaan religius yang kamu&lt;br /&gt;pahami hanya dari penampakan luar. Ternyata sisi batin si pelaku&lt;br /&gt;sangat menentukan kualitas perbuatannya. Terus terang, saya merasa&lt;br /&gt;syukur atas keteranganmu karena untuk selanjutnya saya tidak akan&lt;br /&gt;salah menilai seperti itu lagi.&lt;br /&gt;Demikianlah dialog antara dokter pribadi saya dan saya, yang terjadi&lt;br /&gt;secara spontan dan terbuka. Memang, saya dan teman-teman memiliki&lt;br /&gt;ruang yang terdapat patung seorang guru besar yang bernama Gotama.&lt;br /&gt;Memuja patung bukanlah ajaran religius kami, namun, memang kebanyakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para penganut religius kami, tidak mengerti dengan benar ajaran&lt;br /&gt;religiusnya (tidak mau tahu atau karena ajaran tersebut memerlukan&lt;br /&gt;kemampuan logika pada taraf tertentu), sehingga mereka terjebak ke&lt;br /&gt;dalam praktik keliru sebagai pemuja berhala.&lt;br /&gt;Bagi kami, patung guru besar kami yang bernama Gotama hanya sebagai&lt;br /&gt;alat bantu bagi para pemula (bagi yang telah pandai sama sekali tidak&lt;br /&gt;memerlukan alat bantu seperti itu) untuk membangkitkan sikap batinnya&lt;br /&gt;sepert yang dimiliki oleh guru besar Gotama, yaitu:&lt;br /&gt;1. Murah-hati (dermawan)&lt;br /&gt;2. Bermoral (tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah,&lt;br /&gt;tidak berdusta, tidak memakan atau meminum makanan atau minuman yang&lt;br /&gt;melemahkan kewaspadaan)&lt;br /&gt;3. Tidak terikat/tidak melekat&lt;br /&gt;4. Bijaksana dalam bertindak, berbicara dan berpikir&lt;br /&gt;5. Bersemangat&lt;br /&gt;6. Sabar&lt;br /&gt;7. Selalu berpikir, berbicara dan bertindak jujur dan benar&lt;br /&gt;8. Memiliki tekad yang kuat&lt;br /&gt;9. Memiliki cinta kasih terhadap semua mahluk (tidak pandang&lt;br /&gt;bangsa, ras, agama, golongan, sekte, mahluk, dsb)&lt;br /&gt;10. Sikap seimbang menghadapi suka dan duka (tidak larut dalam&lt;br /&gt;suka maupun duka)&lt;br /&gt;Patung bukanlah kriteria ajaran kami. Ada atau tidak ada patung tidak&lt;br /&gt;menjadi masalah. Guru besar kami sama sekali tidak mengajarkan&lt;br /&gt;pemujaan patung guna menuju kebahagiaan sejati. Tindakan melalui&lt;br /&gt;pikiran, ucapan dan jasmani yang senantiasa terkendali serta jauh&lt;br /&gt;dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin merupakan syarat&lt;br /&gt;mutlak untuk merealisasi kebahagiaan sejati. Setiap mahluk&lt;br /&gt;mengharapkan kebahagiaan, namun kebahagiaan tidak dapat muncul karena&lt;br /&gt;berdoa, meminta-minta.&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan akibat, dan akibat akan muncul apabila ada&lt;br /&gt;sebab tepat yang mendahuluinya. Sebab yang baik pasti akan&lt;br /&gt;menimbulkan akibat yang baik; sebaliknya sebab yang buruk akan&lt;br /&gt;menimbulkan akibat yang buruk pula. Proses sebab akibat ini akan&lt;br /&gt;berlangsung selama kondisi-kondisi penunjangnya terpenuhi; mereka&lt;br /&gt;berproses secara alamiah. Pengertian yang benar mengenai proses&lt;br /&gt;inilah yang menyebabkan saya secara sukarela berusaha melakukan&lt;br /&gt;kebaikan tanpa tergiur oleh janji/iming-iming surga dan secara&lt;br /&gt;sukarela pula&lt;br /&gt;berusaha tidak melakukan kejahatan, tanpa diliputi rasa takut akan&lt;br /&gt;ancaman neraka. Semoga uraian kenyataan di atas dapat meredakan&lt;br /&gt;kesalahpahaman antar penganut religius. [Slamet Rodjali] [Buletin&lt;br /&gt;Dharma Manggala Mei 2007]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TWO STORIES ABOUT THE BUDDHA STATUE&lt;br /&gt;- A Zen Buddhism Koan&lt;br /&gt;NOTE: These two Zen Koans have won big favours among Westerners who&lt;br /&gt;come to accept Buddhism as part of their spirituality. Together with&lt;br /&gt;the riddle "if you see the Buddha, kill him", they are frequently&lt;br /&gt;used by Western followers to promote Buddhism as an idealistic,&lt;br /&gt;rather than idol worshiping, religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STORY I: Dismantling the Buddha Statue&lt;br /&gt;On a very cold chilly winter night, a poor unemployed man dropped&lt;br /&gt;into a Buddhist Temple and kneeled in front of the Main Buddha&lt;br /&gt;Statue. After saying a prayer to the Buddha, he bursted into tears&lt;br /&gt;and started to cry. The Monk-in-charge of the Temple, Dharma Master&lt;br /&gt;Wing Xi (literally, Glorious West) approached him and asked what&lt;br /&gt;happened.&lt;br /&gt;"Your venerable," replied the poor man, "My wife and kids have been&lt;br /&gt;hungry for several days. I have tried my best to support them, but I&lt;br /&gt;could not find work anywhere in town. Now because of the weather, I&lt;br /&gt;am suffering from severe arthritis and other diseases. I think my&lt;br /&gt;family would not last any longer. That's why I come here to pray to&lt;br /&gt;the Buddha and ask him to alleviate my sufferings."&lt;br /&gt;Master Wing Xi pondered, "as Buddhist monks, we do not have any&lt;br /&gt;money. How can we help him in such an emergency?" As he looked at the&lt;br /&gt;gold-plated Buddha Statue in the main hall, suddenly, he had an idea.&lt;br /&gt;He ordered his students to remove the arm from the Buddha Statue,&lt;br /&gt;peel the gold off the arm and gave it to the unemployed poor&lt;br /&gt;man. "Sell it to a gold smith and use the proceeds for your&lt;br /&gt;emergency," he told the poor man.&lt;br /&gt;All the other monks were shocked at his decision and protested, "How&lt;br /&gt;can you break the arm of the Buddha Statue and give it away?"&lt;br /&gt;Master Wing Xi said calmly, "You guys do not understand the Dharma. I&lt;br /&gt;do this to honour the Buddha himself."&lt;br /&gt;The other monks were confused and angry, "You are breaking the Buddha&lt;br /&gt;Statue to pieces. How can this be considered to be an honour to&lt;br /&gt;Buddhism and to the Buddha himself."&lt;br /&gt;Master Wing Xi replied, "I do honour our religion and the founder,&lt;br /&gt;the Buddha himself. Even though I am going to Hell after this, I am&lt;br /&gt;still going to break up the Statue and give it away."&lt;br /&gt;Under the order from the Master, the monks had no choice but started&lt;br /&gt;to chip off the gold plate from the statue, but they surely did not&lt;br /&gt;like doing it. They started to murmur, "We are breaking up the Buddha&lt;br /&gt;Statue to pieces and give it away - and our Master says this is an&lt;br /&gt;honour to Buddhism? What an anti-religion idiot."&lt;br /&gt;Upon hearing this, Master Wing Xi could not stand it any long. He&lt;br /&gt;shouted out loudly, "Don't you guys study the Buddhist Scriptures?&lt;br /&gt;Before he became a Buddha, in his previous lives, Prince Siddhartha&lt;br /&gt;gave himself up to feed a hungry tiger, cut his own flesh to feed an&lt;br /&gt;hungry eagle, donated his own eye to cure someone's eyesight, etc. He&lt;br /&gt;donated everything, including his own body parts for the well being&lt;br /&gt;of other sentient beings. Do you understand his teachings at all?! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STORY II - Using the Buddha Statue as heating fuel&lt;br /&gt;During the Teng Dynasty, Dharma Master Dan Xia (literally, Red&lt;br /&gt;Twilight) used to be a candidate for the civil service examination.&lt;br /&gt;But he got a "calling" and later became a Buddhist Monk instead.&lt;br /&gt;On a cold winter night, a big snow storm hit the city and the temple&lt;br /&gt;where Dan Xia served as a Monk got snowed in. Cut off from outside&lt;br /&gt;traffic, the coal delivery man could not get to the Zen Monastery.&lt;br /&gt;Soon it ran out of heating fuel after a few days and everybody was&lt;br /&gt;shivering in the cold. The monks could not even cook their meals.&lt;br /&gt;Dan Xia began to remove the wooden Buddha Statues from the display&lt;br /&gt;and put them into the fireplace.&lt;br /&gt;"What are you doing?" the monks were shocked to see that the holy&lt;br /&gt;Buddha Statues were being burnt inside the fire place. "You are&lt;br /&gt;burning our holy religious artifacts! You are insulting the Buddha!"&lt;br /&gt;"Are these statues alive and do they have any Buddha nature?" asked&lt;br /&gt;Master Dan Xia.&lt;br /&gt;"Of course not," replied the monks. "They are made of wood. They&lt;br /&gt;cannot have Buddha Nature."&lt;br /&gt;"OK. Then they are just pieces of firewood and therefore can be used&lt;br /&gt;as heating fuel," said Master Dan Xia. "Can you pass me another piece&lt;br /&gt;of firewood please? I need some warmth."&lt;br /&gt;The next day, the snow storm had gone and Dan Xia went into town and&lt;br /&gt;brought back some replacement Buddha Statues. After putting them on&lt;br /&gt;the displays, he began to kneel down and burn incense sticks to them.&lt;br /&gt;"Are you worshiping firewood?" ask the monks who are confused for&lt;br /&gt;what he was doing.&lt;br /&gt;"No. I am treating these statues as holy artifacts and am honouring&lt;br /&gt;the Buddha." replied Dan Xia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah penyembahan berhala, apa ada penyembah berhala yang&lt;br /&gt;dengan tenang-tenang membakar patung yang dia sembah?&lt;br /&gt;Tidak ada.&lt;br /&gt;Karena itu, Buddhist tidak menyembah berhala, tidak menyembah patung.&lt;br /&gt;Kita tahu kok patung itu dari kayu, benda mati. Tapi kita perlu image&lt;br /&gt;Buddha sebagai contoh bahwa seorang manusia bisa mencapai&lt;br /&gt;kesempurnaan, dapat mencapai pembebasan, dan bisa mengembangkan&lt;br /&gt;kualitas-kualitas baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-1836985027620783450?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/1836985027620783450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=1836985027620783450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1836985027620783450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/1836985027620783450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/penganut-buddhisme-tidak-menyembah.html' title='Penganut Buddhisme tidak menyembah berhala!'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-791559879623265995</id><published>2008-12-08T19:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:20:09.164+07:00</updated><title type='text'>Why I say Buddhism is the best religion</title><content type='html'>Mari kita lihat agama mana yang paling sempurna yang ada di dunia ini&lt;br /&gt;yang mana:&lt;br /&gt;cara pembuktian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis 1: semua pendiri agama adalah orang yang sempurna, suci, dll&lt;br /&gt;Anggap aja premis pertama bener dulu (walau saya sih secara pribadi&lt;br /&gt;anggap Siddharta yg sempurna). Daripada jelek-jelekin tokoh agama&lt;br /&gt;lain, y gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis 2: Agama diberikan sesuai dengan kondisi penerima&lt;br /&gt;Agama itu kan sesuatu yang sifatnya spiritual, dan pemahaman maupun&lt;br /&gt;tingkatan tiap orang berbeda dalam hal ini. Para pendiri agama&lt;br /&gt;pastilah menyesuaikan ajarannya sesuai dengan level si penerima&lt;br /&gt;Sama seperti waktu ngajarin anak SD sama anak kuliahan kan beda. SD&lt;br /&gt;mulai penjumlahan, kuliah udah masuk teori kuantum.&lt;br /&gt;Hal ini umumnya berlaku untuk semua agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis1 + Premis 2 =&lt;br /&gt;Ada agama yang levelnya di atas ada yang di bawah. Hal ini secara&lt;br /&gt;logika mungkin bukan karena pendiri agama tersebut tidak tahu tentang&lt;br /&gt;level di atasnya (premis 1, mereka sudah sempurna),&lt;br /&gt;Tapi karena penerima agama tersebut BELUM SIAP untuk belajar sesutu&lt;br /&gt;yang lebih tinggi. Bagaimana cara kita mengukur tingkatan-tingkatan&lt;br /&gt;ini? Gampang.&lt;br /&gt;Tingkat spiritual si penerima agama sebelum si pendiri agama datang&lt;br /&gt;dan berkhotbah "bla bla bla...." menentukan level agama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat penerima awal setiap agama satu persatu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hindu&lt;br /&gt;Sejarah awal tidak jelas dan lebih merupakan budaya yang berkembang&lt;br /&gt;sejak zaman batu. Tidak dapat diketahui keadaan mental orang hindu&lt;br /&gt;zaman dulu. Nabinya saja tidak pasti... Urutan: tidak dapat dipastikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sikh&lt;br /&gt;untuk orang india muslim dan hindu yang sedang bertikai (perang&lt;br /&gt;dingin), agama ini lumayan dapat membuat damai dengan mencoba&lt;br /&gt;menghilangkan perbedaan 2 agama. Minus: Karena ditujukan untuk orang-&lt;br /&gt;orang yang sedang dalam keadaan saling benci, kualitas agama ini&lt;br /&gt;diragukan&lt;br /&gt;Urutan: 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yahudi&lt;br /&gt;Untuk orang-orang penyembah berhala yg gila perang, tidak punya tanah&lt;br /&gt;dan berusaha merebut tanah "yg dijanjikan", bekas budak (zaman musa),&lt;br /&gt;pelanggar firman Tuhan (sepanjang sejarah).&lt;br /&gt;Urutan: 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kristen&lt;br /&gt;Untuk orang Yahudi yang munafik atau terlalu kaku dengan kitab&lt;br /&gt;Taurat, dijajah Romawi dan mengharapkan mesias. Tapi setidaknya&lt;br /&gt;secara umum orang Yahudi zaman Yesus sudah punya basic Moral code&lt;br /&gt;dari kitab Taurat&lt;br /&gt;Urutan: 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Buddhisme &amp;amp; Jainisme&lt;br /&gt;Berkembang ketika orang-orang di India kebanyakan bertanya "apa arti&lt;br /&gt;hidup?"&lt;br /&gt;Ketika berkembang sekitar 62 pandangan tentang Tuhan, Dunia, dan&lt;br /&gt;keselamatan&lt;br /&gt;Ketika tradisi Hindu seperti kasta dan ritual dipertanyakan akal sehat&lt;br /&gt;Ketika muncul guru-guru spiritual yang menawarkan "pembebasan" dimana-&lt;br /&gt;mana, orang orang yang berguru pda mereka&lt;br /&gt;Ketika banyak orang meninggalkan hidup duniawi untuk mengejar&lt;br /&gt;pembebasan tersebut&lt;br /&gt;Ketika kebanyakan orang India percaya karma, reinkarnasi, maka mereka&lt;br /&gt;sering berbuat baik. (walaupun tentunya ada penjahat juga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan: 1 (ga percaya? buktikan pake argumen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Islam&lt;br /&gt;Untuk menjinakkan suku-suku Arab penyembah berhala yang tidak punya&lt;br /&gt;moral sama sekali. Kaum muslim menyebut keadaan pra-Islam sebagai&lt;br /&gt;zaman 'Jahilliyah'. Tidak ada hukum. Pembunuhan biasa. pemerkosaan&lt;br /&gt;apalagi. Wanita sederajat dengan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan : 5 (paling rendah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesalahan? mungkin ada! Bingung juga orang israel zaman dulu&lt;br /&gt;dengan orang arab zaman pra-Islam mana yg lebih barbar.&lt;br /&gt;Tapi toh tetep aja dua agama itu adalah untuk menjinakkan orang-orang&lt;br /&gt;barbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke premis awal...&lt;br /&gt;semua pendiri agama orang sempurna yg mengajarkan agama kepada&lt;br /&gt;manusia dengan penyesuaian. Agama yg mau diajarkan sempurna karena,&lt;br /&gt;katakanlah Tuhan, wahyu, atau pencerahannya sempurna. Tapi tetep&lt;br /&gt;harus disesuikan karena pendengarnya beda-beda. Berdasarkan budaya&lt;br /&gt;dan kondisi mental/moral/spiritual penerima awal suatu agama kita&lt;br /&gt;bisa nebak-nebak level suatu agama.&lt;br /&gt;Bukan berarti agamanya ga sempurna, tapi tidak lengkap. Karena&lt;br /&gt;tingkat selanjutnya ga akan bisa dimengerti sama pendengarnya,&lt;br /&gt;ngapain juga diajarin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat disini Islam berada di posisi paling bawah, sementara&lt;br /&gt;Buddhisme pling atas. Jelas, krn Buddha tidak mereformasi zaman&lt;br /&gt;jahiliyah. Buddha mengajar masyarakat yang umumnya baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Buddha lahir pada waktu dan tempat yang tepat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulh kenapa aku secara pribadi merasa Buddhism is the best&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-791559879623265995?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/791559879623265995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=791559879623265995' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/791559879623265995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/791559879623265995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/why-i-say-buddhism-is-best-religion.html' title='Why I say Buddhism is the best religion'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-6271439540926319983</id><published>2008-12-08T19:13:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:14:17.812+07:00</updated><title type='text'>Kenapa aku bangga jadi pengikut Buddha</title><content type='html'>Kenapa Saya Bangga Menjadi Seorang Buddhist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, mengadakan perang, menyerbu suatu negara,&lt;br /&gt;walaupun dengan tujuan menyebarkan agama kami, dan tidak pernah&lt;br /&gt;mendukung perbuatan seperti itu. Kami cinta damai.&lt;br /&gt;2.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, berperang antar sesama yang berbeda aliran,&lt;br /&gt;tidak pernah menekan sekte – sekte yang berbeda, tidak pernah&lt;br /&gt;melakukan penindasan, penjarahan, pembunuhan kepada aliran lain.&lt;br /&gt;3.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menghancurkan agama lain, membunuh pengikut&lt;br /&gt;agama lain, membakar dan menghancurkan tempat – tempat ibadah agama&lt;br /&gt;lain, membakar universitas dan perpustakaan, membantai pemuka agama&lt;br /&gt;lain, dan membakar kitab suci agama lain.&lt;br /&gt;4.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, memaksa, menakut-nakuti, mengiming-imingi, atau&lt;br /&gt;menekan dengan berbagai cara pengikut agama lain supaya memeluk&lt;br /&gt;keyakinan kami.&lt;br /&gt;5.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, mengutuk&lt;br /&gt;dan memenjarakan ilmuwan, atau menetapkan sebuah teori ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan sebagai sebuah `dogma' yang tidak dapat dikritik.&lt;br /&gt;6.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, membakar seorang wanita yang dituduh penyihir,&lt;br /&gt;membunuh orang yang diduga penyihir&lt;br /&gt;7.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, melakukan pembunuhan, mengizinkan pembunuhan,&lt;br /&gt;pencurian, penjarahan, dan kekerasan&lt;br /&gt;8.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, mendiskriminasikan perempuan, menganjurkan&lt;br /&gt;poligami, dan mengatur cara berpakaian seseorang.&lt;br /&gt;9.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menganjurkan menyelesaikan masalah dengan BOM,&lt;br /&gt;menyetujui penggunaan bom bunuh diri, ataupun kegiatan teroris lainnya.&lt;br /&gt;10.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menjelek-jelekkan agama lain dengan sengaja,&lt;br /&gt;dengan tujuan memperoleh pengikut.&lt;br /&gt;11.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, membunuh orang yang menghina agama Buddha dan&lt;br /&gt;Guru Buddha. (Kami percaya hukum karma akan berlaku pada orang itu).&lt;br /&gt;Tidak pernah juga mengeluarkan `perintah/fatwa mati'.&lt;br /&gt;12.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;kami harus mati-matian membela figur pribadi Guru Buddha. Karena&lt;br /&gt;Beliau adalah teladan yang sempurna, hampir tidak ada yang harus dibela.&lt;br /&gt;13.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menyalahgunakan politik untuk memperbesar&lt;br /&gt;pengaruh agama kami.&lt;br /&gt;14.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, mengobral pertunjukan kesaktian, keajaiban dan&lt;br /&gt;kegaiban dengan tujuan mencari pengikut, karena hal itu dilarang keras&lt;br /&gt;oleh Guru Buddha. Kami tidak tertarik untuk menarik pengikut bodoh&lt;br /&gt;yang percaya buta karena melihat sulap.&lt;br /&gt;15.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, membunuh makhluk hidup apapun juga, entah&lt;br /&gt;sebagai kurban atau persembahan, atau untuk alasan egois lainnya.&lt;br /&gt;16.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, memandang rendah sesama manusia, atas dasar&lt;br /&gt;kasta, gender, ras, kelahiran, status sosial, harta, dll.&lt;br /&gt;17.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, mengijinkan perbudakan sesama manusia.&lt;br /&gt;18.Kami pengikut Buddha tidak pernah menentang nilai - nilai&lt;br /&gt;demokrasi. Sebaliknya, kami mendukung demokrasi. Termasuk Hak Asasi&lt;br /&gt;Manusia dan kebebasan beragama.&lt;br /&gt;19.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, `menerbitkan tiket masuk surga', ataupun&lt;br /&gt;menjamin surga bagi para pengikut, atau sebagai iming-iming.&lt;br /&gt;20.Kami pengikut Buddha, sepanjang sejarah agama kami, tidak pernah&lt;br /&gt;atas nama agama kami, menyebut agama lain `kafir', dan mengutuk&lt;br /&gt;pengikut agama lain ke neraka.&lt;br /&gt;Pelaku kejahatan akan menerima penderitaan.&lt;br /&gt;Pelaku kebajikan akan mendapat kebahagiaan&lt;br /&gt;Bukan karena agama, tetapi karena tindakan merekalah sesorang&lt;br /&gt;Mendapatkan surga atau neraka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-6271439540926319983?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/6271439540926319983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=6271439540926319983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/6271439540926319983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/6271439540926319983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/kenapa-aku-bangga-jadi-pengikut-buddha.html' title='Kenapa aku bangga jadi pengikut Buddha'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-7354037095280159578</id><published>2008-12-08T18:58:00.005+07:00</published><updated>2008-12-08T19:13:27.189+07:00</updated><title type='text'>Muhammad bukanlah Maitreya, part 2</title><content type='html'>Ketidakcocokan ajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.Kelahiran kembali dan karma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perbedaan besar ajaran Buddha dan ajaran Muhammad adalah mengenai masalah kelahiran kembali dan Karma. Buddha Gautama dengan sangat spesifik menyatakan bahwa kelahiran kembali adalah pasti, dan lebih jauh menceritakan banyak kelahiran-Nya yang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan mengenai kelahiran terdahulu Siddharta Gautama ini terkumpul di banyak tempat di Tripitaka. Contohnya:&lt;br /&gt;Jataka (Theravada). Kitab yang menceritakan kisah 547 kelahiran Bodhisattva yang terdahulu.&lt;br /&gt;Jatakamala (Mahayana). Kitab Jataka versi Mahayana dengan cerita yang lebih sedikit tetapi lebih mudah dimengerti dan lebih menekankan aspirasi pencapaian KeBuddhaan. &lt;br /&gt;Sutra Tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Mahayana). Menceritakan banyak cerita kelahiran kembali dan hukum sebab akibat (karma) yang dialami oleh Bodhisattva maupun murid-murid Buddha pada kelahiran sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kitab di atas menceritakan kisah yang sama, yaitu bagaimana seorang Bodhisattva harus berjuang melalui banyak kelahiran untuk menyempurnakan kualitas-kualitas baik dan perbuatan bajiknya. Perbuatan bajik yang tidak mungkin dapat disempurnakan dalam satu kelahiran. Kesempurnaan (Paramita) yang disempurnakan melalui kelahiran yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan Berdana (Perfection of giving) misalnya, dicapai ketika Bodhisattva memberikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hartanya, anak-anaknya, dan istrinya (Vessantara Jataka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Organ tubuhnya (Maitribhala Jâtaka - Kisah Tentang Kekuatan Belas kasih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hidupnya. (contoh: Vyaghri Jataka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tidak pernah memberikan ajaran tentang bagaimana tidak mementingkan diri sendiri dan memberikan hidup sendiri untuk kebahagiaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Apa yang diajarkan Muhammad sangatlah berbeda. Ia mengajarkan akhir jaman (kiamat) yang serupa dengan agama Kristen dan Yahudi dimana semua orang akan diadili sesuai perbuatannya pada masa hidupnya. Manusia hanya hidup satu kali. Tak ada hukum karma yang berlanjut di kehidupan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Beliau akan menceritakan Buddha Gautama secara jelas dan mendetil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Maitreya akan secara jelas menceritakan kisah-kisah mengenai Buddha sebelumnya, termasuk Buddha Gautama. Seperti juga Buddha Gautama yang telah menceritakan secara jelas 24 Buddha sebelum Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He will tell the story of one of his past lives (Jataka) whenever necessary, and he will teach the Buddhavamsa (The Chronicle of Buddhas) to a gathering of his relatives."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikkhu, berdasarkan pengertiannya yang sempurna tentang Dhamma-dhatu, maka Tathagata dapat mengingat kembali para Buddha yang lampau. Karena ia telah mencapai kesempurnaan, telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah menghancurkan semua rintangan, telah memutuskan lingkaran kehidupan dan terbebas dari penderitan. Demikianlah, sehingga ia dapat mengingat kelahiran para Buddha, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, panjang usia kehidupan mereka, pasangan murid utama mereka, bhikkhu pembantu mereka, kelompok bhikkhu yang datang berkumpul; maka ia dapat berkata: "Demikian itulah kelahiran dari para Bhagava, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, sila (moral) mereka, Dhamma mereka, kebijaksanaan mereka, bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka mencapai kesucian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mahapadana Sutta, Digha Nikaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Buddha Maitreya menceritakan secara detil tentang Buddha Gautama? Karena mereka pernah bertemu secara langsung dalam beberapa kehidupan. Salah satu pertemuan tersebut diceritakan dalam Vyaghri Jataka, dimana Buddha Maitreya waktu itu adalah siswa senior pertapa yang merupakan kelahiran terdahulu Buddha Gautama. (At different stages of perfection two Bodhisattas may happen to be reborn at the same vicinity at some very rare moments in their life's journey).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Muhammad tidak pernah menceritakan Buddha Gautama dan Buddha-Buddha sebelumnya yang telah diceritakan oleh Buddha Gautama. Maka, sangatlah diragukan apakah Muhammad adalah penerus Buddha Gautama. Padahal Buddha Maitreya dengan sangat jelas diramalkan sebagai penerus garis sislsilah Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Ahimsa dan cinta terhadap semua makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Maitreya (sansekerta, bahasa pali: Metteya) berasal dari kata Maitri (pali: Metta) yang artinya cinta kasih. Maitreya berarti `Ia yang memiliki cinta kasih'. Seorang yang diklaim sebagai Maitreya seharusnya mempunyai cinta kasih yang sangat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa ajaran Buddha Gautama menekankan pada pengembangan kebijaksanaan dan ajaran Buddha Maitreya akan menekankan pada cinta kasih. Bukan berarti Maitreya memiliki cinta kasih yang lebih daripada Buddha Gautama dan Buddha Gautama lebih bijaksana. Cinta kasih dan kebijaksanaan semua Buddha adalah sama, yang berbeda hanyalah pada penekanan ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah cukup mengatakan bahwa Muhammad dan ajarannya, Islam, memiliki cinta kasih, atau Tuhan agama mereka adalah Maha-Pengasih, dll, untuk menyamakan Muhammad dan Maitreya. Masalahnya cinta kasih yang dimengerti dalam ajaran Buddha tidaklah sama dengan cinta kasih yang dimengerti pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kasih dalam ajaran Buddha berarti cinta kasih pada semua makhluk di dunia, bahkan terhadap serangga terkecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak berbuat kesalahan walaupun kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat dicela oleh para bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah ia berpikir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk hidup apa pun juga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lemah dan kuat tanpa kecuali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang panjang atau besar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sedang, pendek, kecil, atau gemuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tampak atau tak tampak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jauh atau pun dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang telah lahir atau akan lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melindungi anaknya yang tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah terhadap semua makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipancarkankannya pikiran kasih sayangnya tanpa batas     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Karaniya Metta Sutta – Khotbah tentang pengembangan cinta kasih)        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Muhammad bukanlah Maitreya penerus Buddha Gautama. Kenapa? Karena Buddha Maitreya seharusnya mengajarkan praktek pengembangan cinta kasih yang minimal sama dengan Buddha Gautama. Sehingga Maitreya juga akan mengajarkan cinta pada semua makhluk dan mengajarkan ahimsa (tanpa kekerasan). Pembunuhan makhluk lain akan dicela sebagai perbuatan buruk dan mengakibatkan karma negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Muhammad tidak mengajarkan hal tersebut. Bahkan membunuh manusia dan perang dalam kondisi tertentu diperbolehkan, apalagi membunuh binatang. Muhammad dikatakan menyukai beberapa binatang (contohnya Unta) dan melarang mereka dibunuh. Tetapi beberapa binatang dibunuh dengan sengaja. Contohnya, dalam Islam, ada upacara kurban yang membunuh banyak ternak yang merupakan upacara religius wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara kurban sangat bertentangan dengan konsep cinta kasih kepada semua makhluk. Upacara kurban juga secara spesifik ditentang/dikritik oleh Buddha Gautama. Buddha berkata bahwa upacara kurban yang benar dan mulia adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput 'Dabba' yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kutadanta Sutta –Sutta Pitaka Digha Nikaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu kisah jataka juga disinggung tentang upacara kurban dimana upacara pengorbanan hewan dikatakan sebagai hal yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Tentang Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme jelas-jelas menolak ide tentang Tuhan Pencipta. Hal ini telah berkali-kali ditegaskan oleh Buddha Gautama dalam banyak khotbah. Buddha dengan sendirinya juga menolak metode-metode agama lain yang menawarkan penyatuan dengan Tuhan. Tuhan di India waktu itu dipanggil dengan nama Brahma. Contoh hal ini ada di Tevijja Sutta (khotbah tentang tiga pengetahuan) dimana Buddha mengkritik metode-metode Hindu yang dikatakan dapat membawa penyatuan dengan Brahma. Definisi Buddhism tentang Tuhan sama sekali berbeda dengan definisi agama lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-7354037095280159578?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/7354037095280159578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=7354037095280159578' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7354037095280159578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/7354037095280159578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/muhammad-bukanlah-maitreya-part-2.html' title='Muhammad bukanlah Maitreya, part 2'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1231555447204796295.post-3676402169946998715</id><published>2008-12-08T18:58:00.004+07:00</published><updated>2008-12-08T19:10:54.415+07:00</updated><title type='text'>Muhammad bukanlah Maitreya, part 1</title><content type='html'>Klaim bahwa Muhammad adalah Maitreya didasarkan pada beberapa kesamaan antara ramalan Buddha Gautama dengan kehidupan Muhammad. Tetapi klaim ini kebanyakan hanya mengada-ada dan menghubung-hubungkan dengan tidak logis. Bahkan klaim ini tidak mempedulikan aspek-aspek dari ramalan Buddha Gautama yang dengan jelas menyebutkan kapan dan dalam kondisi seperti apa seperti apa keadaan Buddha Maitreya muncul. Selain itu, ketidaksesuaian ajaran antara Buddha Gautama dengan ajaran Muhammad dalam hal-hal yang mendasar patut dipertanyakan karena seharusnya ajaran Buddha dari masa ke masa adalah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan agama lain, tetapi untuk memberi penjelasan berdasarkan kitab-kitab suci Buddhis kenapa Muhammad tidak mungkin adalah Maitreya. Fokus tulisan ini karena itu adalah perbedaan fakta sejarah kehidupan Muhammad dengan ramalan Buddha Gautama dan perbedaan ajaran antara Islam dan Buddhisme yang sangat mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.           Ketidakcocokan dengan ramalan&lt;br /&gt;Buddha Maitreya akan datang setelah ajaran Buddha Gautama dilupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika Buddha Gotama tinggal di hutan Banyan di Kapilavastu, Bhikkhu Sariputta mendekati beliau dan mengajukan pertanyaan kepada Buddha tentang Buddha yang akan datang. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pahlawan yang akan mengikuti Anda sebagai Buddha, seperti apakah Dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan semata, aku tidak dapat memahami. Nyatakanlah kepadaku, Yang Mahatahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha kemudian menyatakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"… siklus Kami adalah siklus yang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pemimpin Buddha sudah pernah hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Buddha Kakusandha, Konagamana dan Kassapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha sekarang adalah Aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah Aku, Maitreya akan datang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara siklus yang bahagia ini masih berlangsung…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anagata-vamsa, Chronicles of Future Buddhas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah kepergianku, lebih dahulu akan ada kemerosotan dan pelenyapan ajaranKu. Ini akan terjadi dalam 5 tahap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lenyapnya pencapaian. Ketika tidak ada lagi bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian&lt;br /&gt;Lenyapnya metode. Ketika tidak ada lagi Bhikkhu yang menjalankan peraturan para Bhikkhu yang berjumlah 227. Jumlah peraturan yang diikuti akhirnya hanya akan ada 4 (4 parajika, peraturan yang paling dasar) dan setelah tidak ada bhikkhu yang menjalankan 4 parajika, metode lenyap.&lt;br /&gt;Lenyapnya ajaran. Ketika Tripitaka lenyap dari dunia dan manusia tidak mampu mengingat 4 baris syair Dharma:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berbuat jahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurnakan kebajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sucikan hati dan pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ajaran para Buddha &lt;br /&gt;Lenyapnya simbol-simbol. Ketika Bhikkhu-bhikkhu merosot cara hidupnya, menanggalkan jubah dan memakai carikan kain kuning. Mereka akan berdagang dan menikah. Ketika mereka membuang carikan kain kuning dan mulai melakukan pembunuhan terhadap binatang, simbol telah lenyap.&lt;br /&gt;Lenyapnya relik-relik. Setelah 5000 tahun, relik-relik Buddha akan gagal mendapatkan penghormatan yang semestinya. Relik-relik tersebut tidak akan dihormati dimanapun. Relik-relik itu akan terbakar dengan sendirinya tanpa meninggalkan sisa setelah melakukan keajaiban-keajaiban yang disaksikan oleh para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat dilihat secara jelas adalah bahwa saat ini Para anggota sangha, para bhikkhu masih memakai jubah dan menjalankan peraturan-peraturan kebhikkhuan secara lengkap, ajaran Buddha dalam tripitaka masih lengkap, dan relik-relik Buddha masih dihormati di banyak tempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang mengklaim dirinya atau orang lain sebagai Maitreya pada saat ini jelas tidak dapat dipercaya. Muhammad lahir pada tahun 570 Masehi, sekitar 1000 tahun setelah Buddha Gautama. Sedangkan Ajaran Buddha baru akan hilang 5000 tahun setelah Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buddha Maitreya akan datang setelah masa kegelapan berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Cakkavati Sihanada Sutta, disebutkan bahwa setelah Ajaran Buddha hilang dari dunia, akan terjadi masa kegelapan dimana umur manusia semakin berkurang karena moral manusia menurun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... perzinahan... kata-kata kasar dan membual... iri hati dan dendam ... pandangan sesat... berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu... hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik -- Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang... yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan srigala.&lt;br /&gt;Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, perasaaan yang benci yang hebat, dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya... Hal ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir: 'Individu ini adalah binatang liar.' Dengan pedang mereka saling membunuh.&lt;br /&gt;Sementara itu ada orang-orang tertentu yang berpikir: 'Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan.' Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata: 'O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!'&lt;br /&gt;Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut : 'Karena kita melakukan cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.' Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: 'Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati para samana dan pertapa serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini.' &lt;br /&gt;Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak mengambil apa yang tidak diberikan... berbakti kepada ke dua orang tua, menghormat para samana dan pertapa serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; .... anak-anak mereka mencapai 160 tahun;... anak-anak mereka mencapai 320 tahun;... anak-anak mereka mencapai 640 tahun;... anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun;... anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;... anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun;... anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya berbatas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebelum Budha Maitreya datang, akan ada masa kegelapan dimana usia manusia sangat rendah, ketidakbajikan merajalela, incest tidak dilarang, dan terjadi pemusnahan besar manusia karena mereka saling membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masa kegelapan ini belum datang, maka jelas bahwa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat jauh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buddha Maitreya akan datang dalam masa kemakmuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga macam penyakit -- keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudipa -- bagaikan avici -- akan penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang dipenuhi semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini, kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati, ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya dan pemilik tujuh macam permata, yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita (istri), kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia sampai ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang melainkan dengan kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya (Maitreya), yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dilihat bahwa pada saat ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Tidak ada raja yang sangat berkuasa  bernama Sankha yang memerintah dengan adil. Di zaman Nabi Muhammad juga tidak ada raja seperti itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Usia manusia belum mencapai 80.000 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kehidupan manusia belum semakmur seperti yang diceritakan dalam Cakkavati Sihanada Sutta, dimana tidak ada perang dan kebanyakan penyakit hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedatangan Buddha Maitreya tidak mungkin terjadi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi umur Nabi Muhammad SAW tidak sampai 80.000 tahun. Padahal Buddha Gautama mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Usia Buddha Maitreya adalah 80.000 tahun. Berada di dunia, beliau akan membawa banyak orang menyebrang" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang Buddha mempunyai 32 tanda manusia besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Buddha di masa lalu maupun masa yang akan datang akan memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Ciri-ciri ini berjumlah 32, dan terdapat dalam kitab-kitab Veda agama Hindu sebagai Maha Purisa Lakkhana (Tanda-tanda manusia agung). Buddha Gautama menjelaskan tentang hal ini dalam Lakkhana Sutta (Sutta Pitaka,Digha Nikaya): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), ... maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Tumit yang bagus (ayatapanhi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Jari-jari panjang (digha-anguli)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.       Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.   Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.   Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.   Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.   Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.   Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.   Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.   Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.   Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.   Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.   Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.   Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.   Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.   Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.   Gigi-geligi rata (sama-danto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.   Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.   Gigi putih bersih (susukka-datho).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.   Lidah panjang (pahuta-jivha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.   Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.   Mata biru (abhinila netto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.   Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.   Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.   Kepala bagaikan berserban (unhisasiso)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang ingin mengklaim bahwa dirinya adalah Buddha, harus mempunyai 32 tanda ini. Muhammad tidak pernah disebutkan memiliki tanda-tanda tersebut. Kita memang tidak dapat membuktikan apakah Muhammad mempunyai ciri-ciri tersebut karena tidak ada gambaran fisik tentang Muhammad yang dilestarikan oleh umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Proklamasi kedatangan Buddha Maitreya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Bodhisattva Maitreya lahir terakhir kalinya sebagai manusia, para dewa dan Brahma akan mengumumkan kedatangannya 1000 tahun sebelumnya. Umat manusia yang pada saat itu masa hidupnya berusia 80.000 tahun akan hidup dalam penantian 1000 tahun lamanya sebelum Buddha Maitreya benar-benar lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seorang Calon Buddha disebut Bodhisattva sebelum mencapai pencerahan sempurna)&lt;br /&gt;Buddha Maitreya dilahirkan dan dibesarkan dalam beberapa kondisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Boddhisattva akan menjadi anak dari Kepala Pendeta Kerajaan, yang bernama Subrahma, dan ibunya akan bernama Brahmavati (disebutkan dalam Visudhi Magga Bab XIII, 127) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Beliau akan dinamai Ajita, dan akan memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan yang biasa dimiliki oleh Raja Dunia dan Buddha (daftar 80 tanda minor ada dalam pendahuluan Dasabodhisattuppattikatha/ The Birth-stories of the Ten Bodhisattas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Kondisi kelahiran yang menakjubkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya melahirkan Beliau dalam keadaan berdiri dan di dalam hutan. Bodhisattva akan dilahirkan di taman rusa Isipatana…Ia dilahirkan tanpa noda…Segera setelah lahir beliau akan berjalan ke utara, memeriksa empat penjuru, dan mengumumkan bahwa beliau adalah yang termulia di dunia…tujuh hari setelah Bodhisattva dilahirkan, ibunya meninggal dan terlahir di alam dewa Tusita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Beliau akan menjalani kehidupan sebagai perumah tangga selama 8000 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Beliau akan mempunyai empat istana yang bernama Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, and Candaka. Ia akan mempunyai 100.000 gadis penari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Istrinya akan bernama Candamukhi (Dasavatthuppakarana) dan anaknya bernama Brahmavaddhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali Muhammad tidak memenuhi semua ramalan di atas.&lt;br /&gt;Muhammad tidak mungkin lahir di hutan. Di Arab tidak ada hutan&lt;br /&gt;Muhammad tidak bernama Ajita. Ia bukan anak kepala pendeta kerajaan&lt;br /&gt;Semua Buddha segera setelah lahir langsung dapat berjalan dan berbicara, sementara tidak ada catatan Muhammad melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;Ibunya meninggal pada waktu Muhammad berusia 6 tahun, bukan 7 hari &lt;br /&gt;Muhammad tidak punya istana dan gadis penari, nama istri dan anaknya juga beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bandingkan dengan fakta historis Muhammad di bawah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin 'Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'b.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin 'Abd Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'b.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya bernama Khadijah (dan lain-lain) dan anaknya bernama Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buddha Maitreya dan pengikutnya meninggalkan keduniawian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He will become averse to sensual pleasures. Not looking for the unsurpassed, great happiness and bliss in seeking honour, he will go forth."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anagata-vamsa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cakkavati Sihanada Sutta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Bodhisattva memutuskan untuk meninggalkan keduniawian setelah mereka melihat empat tanda (orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa), dan setelah mereka mendapatkan seorang putra. Cerita Bodhisattva Ajita secara detil diceritakan dalam Dasabodhisatta- uddesa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur delapan ribu tahun, Bodhisattva akan mengendarai kereta yang mirip istana dewa dan ketika beliau pergi ke taman istana, beliau akan melihat empat tanda. Beliau akan mengembangkan perasaan tidak puas pada dunia, dan melepaskan keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau akan mencukur rambut dan memakai jubah kuning. Bodhisattva kemudian akan pergi ke salah satu istananya. Diikuti oleh para pengikutnya (yang mencontoh beliau meninggalkan keduniawian), beliau akan duduk di bawah pohon Naga dan bermeditasi selama 7 hari sebelum mencapai pencerahan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Buddha Gautama yang meninggalkan keduniawian, meninggalkan anak dan istri dan menjadi pertapa, begitu pulalah yang dilakukan oleh Buddha Maitreya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini terlihat perbedaan yang sangat mencolok karena seperti yang kita tahu bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Muhammad tidak meninggalkan keluarganya sewaktu mendapatkan wahyu pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Muhammad tidak hidup selibat, ataupun memakai jubah pertapa, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Muhammad malah kawin lagi, mengambil 9 istri (minimal) setelah kematian istri pertamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Muhammad mendapat wahyu di dalam gua, bukan di bawah pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Muhammad menjadi pemimpin politik dan menguasai daerah-daerah. Hal ini juga terus dilakukan oleh penerusnya, para kalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangatlah berbeda dengan ramalan Buddha Gautama yang mendeskripsikan Maitreya sebagai penerusnya yang akan hidup dengan cara yang mirip dan mengajarkan ajaran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari teks awal yang menyebutkan Maitreya adalah teks Sansekerta,  Maitreyavyakaraá¹‡a (The Prophecy of Maitreya), yang menyatakan bahwa dewa, manusia, dan makhluk lain akan memuja Maitreya dan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"akan hilang rasa ragunya, dan arus nafsu keinginan mereka akan terpotong; bebas dari penderitaan mereka akan menyebrang lautan kelahiran kembali; dan, sebagai hasil dari ajaran Maitreya, mereka akan menjalani kehidupan suci. Tak akan lagi mereka menganggap apapun sebagai milik mereka, mereka tidak akan mempunyai kepemilikan, tak ada emas atau perak, tak ada rumah, tak ada keluarga! Tapi mereka akan menjalankan kehidupan suci selibat di bawah petunjuk Maitreya. Mereka akan merobek jaring nafsu, mereka akan dapat memasuki samadhi, dan mereka akan mendapat banyak kebahagiaan karena mereka menjalankan kehidupan suci di bawah bimbingan Maitreya. (Trans. in Conze 1959:241)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/maitreya &lt;br /&gt;Buddha Maitreya datang pada saat keadaan dunia berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Maitreya ditandai oleh beberapa kejadian fisik. Lautan diprediksi akan berkurang ukurannya, yang membuat Maitreya dapat menyebrang secara bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari keempat lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buddha Maitreya memiliki fisik yang berbeda dengan manusia masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa karena kebajikan mereka, manusia di masa depan akan berkembang tubuhnya. Badan mereka akan menjadi sangat besar. Badan manusia masa sekarang kecil karena banyak melakukan ketidakbajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many details are given about the physical appearance of Buddha Metteyya. He will be eighty-eight cubits high. His chest will be twenty-five cubits in diameter. There will be twenty-two cubits from the soles of his feet to the knees, from the knees to the navel, from the navel to the collar bone, and from the collar bone to the apex of his head. His arms will be twenty-five cubits long. The collar bones will be five cubits. Each finger will be four cubits. Each palm will be five cubits. The circumference of the neck will be five cubits. Each lip will be five cubits. The length of his tongue will be ten cubits. His elevated nose will be seven cubits. Each eye socket will be seven cubits. The eyes themselves will be five cubits. The Anagatavamsa says his eyelashes will be thick, that the eyes will be broad and pure, not winking day or night; and that with his physical eye, he will be able to see large and small things all around for ten leagues without obstruction. The space between the eyebrows will be five cubits.(126)  The eyebrows will be five cubits. Each ear will be seven cubits. The circumference of his face will be twenty-five cubits. The spiral of the protuberance on his head will be twenty-five cubits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Maitreya bukanlah yang terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir bagi dunia. Hal ini ditegaskan oleh Muhammad sendiri. Namun menurut Buddhis, Maitreya bukanlah yang terakhir karena masih akan ada Buddha yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Uttamo Metteyyo Ramo Pasenadi Kosalo ca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Abhibhu Dighasoni ca Candani ca Subo Todeyyabrahmano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Nalagiri Palaleyyo bodhisatta anukkamena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sambodhim labhanti anagate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gotama predicted as follows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the future (ten) Bodhisattas will attain full awakening in the   following order: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the most honourable (Ariya) Metteyya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(King) Rama, (King) Pasenadi of Kosala, (the Deva) Abhibhu, (the Asura Deva) Dighasoni, (the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Brahman) Candani, (the young man) Subha, the Brahman Todeyya, (the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  elephant) Nalagiri, and (the elephant) Palaleya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anagatavamsa, bait pertama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1231555447204796295-3676402169946998715?l=defendingbuddhism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/feeds/3676402169946998715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1231555447204796295&amp;postID=3676402169946998715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/3676402169946998715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1231555447204796295/posts/default/3676402169946998715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://defendingbuddhism.blogspot.com/2008/12/muhammad-bukanlah-maitreya-part-1.html' title='Muhammad bukanlah Maitreya, part 1'/><author><name>wisdomgod</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00051490975622797194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='13' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3Z8tPdgz1RI/ST0Oa8tg6qI/AAAAAAAAAAM/hfEsrIvJuSI/S220/xiaopo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
